Tampilkan postingan dengan label ide belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ide belajar. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2015

Oobleck, Permainan Edukatif Anak Pra Sekolah

Dengan bahan yang sederhana, kita dapat mempelajari suatu bahan dan bermain main dengannya. Nama benda tersebut adalah oobleck yang terbuat dari tepung kanji atau tepung maizena, dicampur dengan air. Saya membuat mainan ini untuk anak anak yang berusia 6 tahun ke bawah, tapi ternyata mainan ini cukup menarik perhatian anak yang berusia di ata 6 tahun. Tidak masalah bermain bersama, karena pemahaman dan penemuan setiap anak yang berbeda tahapnya akan berbeda juga. 

Dulu ketika belajar di sekolah, kita diajarkan oleh guru unntuk menghafalkan 3 wujud benda yaitu padat gas dan cair. Dan anehnya, oobleck ini bukan benda padat dan bukan benda cair. Dia memiliki sifat benda padat dan benda cair. Scientist merumuskan oobleck sebagai non newtonian fluid. Oobleck memiliki kemiripan sifat dengan pasir isap (liquid sand).

Anak usia  di bawah 6 tahun mungkin belum perlu mengetahui secara mendetail tentang sifat fisik oobleck ini. Lebih menyenangkan bagi mereka untuk mencampur, mengaduk dan mencoba sendiri oobleck yang dibuat. 

Bahan yang diperlukan:

  • Tepung kanji
  • Air
Perbandingan antara tepung dan air antara 1: 2 (2 bagian tepung dan 1 bagian air). Janagn terpaku pada perbandiembuat banngan yang sudah ada karena ada kemungkinan perbedaan jenis tepung kani akan menghasilkan perbandingan campuran yang berbeda. Cara yang paling mudah adalah dengan memberikan air sedikit demi sedikit pada tepung kanji di dalam wadah. Adonan akan terasa keras jika ditekan, namun bisa mengalir di antara jari  tangan jika kita mengaduk perlahan lahan.

Bagaimana memainkan oobleck? biasanya anak kecil akan langsung mengaduk aduk dan memutar adonan oobleck. Tapi jika mereka belum tertarik, mungkin kita bisa ikut bermain untuk sekedar memancing perhatiannya. Jika ia sudah tahu kalau bermain oobleck itu mengasyikkan, ia akan mencoba bermain sendiri.


Beberapa hal yang bisa dicoba ketika bermain oobleck:


  • Dapat berubah bentuk dengan sendirinya

  • Menyaring oobleck

  • Jika dipukul terasa keras, tapi jika dibiarkan akan terasa seperti benda cair
  • Mendirikan balok kayu di atas oobleck
  • Membuat oobleck melayang

  • Berjalan di atas oobleck yang dibuat oleh timewarp : https://www.youtube.com/watch?v=r7a84816i_g
  • Oobleck untuk menutup lubang di jalan: http://www.gizmag.com/non-newtonian-fluid-pothole-bags/22153/ 
  • Makanan yang terbuat dari adonan oobleck seperti bubble tea, bubur gunting, dll.
  • Mencari tau apakah yang terjadi jika oobleck dikeringkan atau dibekukan

    Oobleck yang dibekukan

    Oobleck yang dikeringkan
Penjelasan ilmiah tentang oobleck untuk anak: http://www.coolscience.org/CoolScience/Teachers/Activities/Oobleck.htm

Sabtu, 29 Agustus 2015

Belajar Fisika: Teka Teki Pendayung

Gambar dari: pixabay.com


Dua pendayung, berbaris pada  bagian tepi sungai. Mereka berangkat dengan kecepatan yang sama di atas air dan melintasi sungai pada waktu yang sama.

Pendayung pertama bergerak tegak lurus arah badan sungai. Arus sungai meyebabkan pendayung bergeser sedikit dari lintasan awal.

Pendayung kedua tidak bergerak tegak lurus arah badan sungai melainkan membentuk sudut yang berlawanan arah dari titik awal. Dengan cara seperti ini dia bermaksud membentuk lintasan lurus ketika menyebrang sungai agar sampai pada bagian tepi sungai lainnya dengan arah tegak lurus.

Pendayung yang mana yang lebih dahulu sampai ke tepi sungai?

(petunjuk: Pelajari kembali penjumlahan vektor 2 dimensi)

Selasa, 25 Agustus 2015

Belajar Fisika: Tegangan Permukaan Zat Cair

Definisi

Definisi dari tegangan permukaan (wikipedia):

Tegangan Permukaan merupakan gaya yang diakibatkan oleh suatu benda yang bekerja pada permukaan zat cair sepanjang permukaan yang menyentuh benda itu. - See more at: http://phisiceducation09.blogspot.com/2013/04/tegangan-permukaan-dan-kapilaritas.html#sthash.QoC2Dndn.dpuf
Tegangan permukaan adalah gaya yang diakibatkan oleh suatu benda yang bekerja pada permukaan
zat cair sepanjang permukaan yang menyentuh benda itu.
Apabila F = gaya (newton) dan L = panjang (m), maka tegangan-permukaan, S dapat ditulis sebagai S = F/L.
Adanya tegangan permukaan menyebabkan permukaan cairan seperti ditutupi oleh hamparan selaput yang elastis, sehingga mampu menahan suatu benda dalam kondisi tertentu untuk terapung. Selain itu, akibat adanya tegangan permukaan zat cair selalu berusaha untuk menyusut atau mendapatkan luas permukaan terkecil karena bentuk ini dianggap mempunyai energi yang paling rendah (paling stabil). Bentuk yang paling memenuhi keadaan ini adalah bentuk bola (sphere). Sifat cenderung untuk memperkecil luas permukaan inilah yang menyebabkan tetesan-tetesan cairan berbentuk bulat

Ada banyak sekali contoh kasus tegangan permukaan yang dapat kita temukan sehari hari antara lain:
  • Seekor semut, laba laba dan serangga kecil lainnya dapat berjalan di atas air. Bayangkan jika ia berhasil berjalan di atas perangkap semut yang telah diisi air untuk mendapatkan makanan yang disukainya, makanan tersebut akan dibawa ke dalam sarangnya. jadi bagaimana caranya kita mencegah semut agar tidak dapat berjalan di atas permukaan air? caranya cukup dengan memperkecil tegangan permukaan.
  • Daun teratai dan dan daun talas adalah salah satu daun yang relatif sulit dibasahi oleh air. Air yang berada di atas daun ini akan berbentuk bulat.
Tegangan permukaan berhubungan dengan peristiwa yang disebut kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis) dan adhesi (gaya tarik menarik antara molekul tidak sejenis). - See more at: http://phisiceducation09.blogspot.com/2013/04/tegangan-permukaan-dan-kapilaritas.html#sthash.QoC2Dndn.dpuf

Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Tegangan Permukaan


a. Jenis cairan
Besarnya tegangan permukaan cairan bergantung pada gaya tarik antara molekul- molekulnya. Pada umumnya cairan yang memiliki gaya tarik antara molekulnya besar, seperti air, maka tegangan permukaannya juga besar. Sebaliknya pada cairan seperti bensin karena gaya tarik antara molekulnya kecil, maka tegangan permukaannya juga kecil.

b. Suhu
Tegangan permukaan cairan turun bila suhu naik, karena dengan bertambahnya suhu molekul- molekul cairan bergerak lebih cepat dan pengaruh interaksi antara molekul berkurang sehingga tegangan permukaannya menurun.

c. Adanya zat terlarut
Adanya zat terlarut pada cairan dapat menaikkan atau menurunkan tegangan permukaan. Untuk air adanya elektrolit anorganik dan non elektrolit tertentu seperti sukrosa dan gliserin menaikkan tegangan permukaan. Sedangkan adanya zat- zat seperti surfaktan dan alkohol adalah efektif dalam menurunkan tegangan permukaan

Contoh Penyelesaian Kasus Tegangan Permukaan zat cair


Tegangan permukaan juga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya mencuci. Agar pakaian yang kita cuci benar-benar bersih maka air harus melewati celah yang sangat sempit pada serat pakaian. Untuk itu diperlukan penambahan luas permukaan air. Hal ini sangat sukar dilakukan karena adanya tegangan permukaan. Sehingga nilai tegangan permukaan air harus diturunkan dahulu. Kita bisa menurunkan tegangan permukaan dengan cara menggunakan air panas. Makin tinggi suhu air, maka baik karena semakin tinggi suhu air, semakin kecil tegangan permukaan.

Beberapa percobaan tegangan permukaan


Percobaan 1 Praktikum klip kertas dan silet

  • Isi sebuah gelas dengan air sampai penuh
  • Dengan hati-hati letakkan klip di permukaan air sehingga saat diletakkan, klip akan mengapung di permukaan air
  • Ulangi eksperimen ini dengan cara mengganti klip kertas dengan silet.
  • Dengan keadaan klip mengapung, tambahkan sedikit larutan detergen atau larutan sabun ke dalam air. Maka klip segera tenggelam.
  • Ulangi eksperimen ini dengan cara mengganti klip kertas dengan silet.

Percobaan 2 Plastisin dan kelereng

  • Bentuklah plastisin menyerupai perahu, seperti pada gambar dibawah ini.
  • Dengan hati-hati letakkan perahu plastisin di permukaan air sehingga saat diletakkan, perahu akan mengapung di permukaan air
  • Letakkan 3 buah kelereng secara bersamaan di atas perahu
  • Amati perubahan yang terjadi. Apakah perahu akan tenggelam atau tidak.

Percobaan 3 Perahu karton dan sabun

  • Guntinglah karton seperti gambar di bawah ini.
  • Dengan hati-hati letakkan karton di permukaan air sehingga saat diletakkan, karton akan mengapung di permukaan air
  • Letakkan potongan sabun di bagian belakang karton
  • Amati apa yang terjadi.

Percobaan 4 Pola korek api

  • Susun korek api secara melingkar diatas permukaan air.
  • Masukkan gula batu di tengah tengah korek api
  • Amati perubahan yang terjadi.
  • Ambil gula batu dan ganti dengan sabun, amati apa yang terjadi.

Percobaan 5 Lilin, air biasa, dan larutan detergen

  • Siapkan lilin batang berwarna lalu tetesi dengan air di salah satu ujungnya
  • Lalu tetesi larutan detergen di ujung yang lain
  • Amati perubahan yang ditimbulkan

Percobaan 6 Saputangan, air biasa, air panas

  • Siapkan 2 buah saputangan putih yang sudah dikotori dengan noda
  • Siapkan 2 buah wadah, wadah pertama diisi dengan air biasa yang telah dicampur dengan detergen.
  • Wadah kedua, diisi dengan air hangat yang telah di campur dengan detergen.
  • Masukkan masing-masing saputangan ke dalam masing-masing wadah.
  • Diamkan selama 10 menit.
  • Setelah 10 menit, angkat saputangan dan lihat perubahan yang terjadi.

Percobaan 7 Antiseptik

  • Tusukkan jarum pada jari hingga mengeluarkan darah.
  • Tetesi dengan betadine dan amati perubahan yang terjadi.
  • Lakukan hal yang sama pada jari kedua dan teteskan dengan alkohol. Amati perubahan yang terjadi.

Pengamatan Hasil Percobaan

Percobaan 1 ( klip kertaas dan silet )


  • Pada percobaan ini, klip kertas dan silet dapat mengapung dipermukaan air setelah diletakkan secara perlahan-lahan.

Percobaan 2 ( plastisin dan kelereng )

  • Pada percobaan ini, perahu plastisin yang diisi kelereng dapat mengapung di permukaan air apabila sisi perahu bagian depan, belakang, samping kiri dan kanan dibuat lebih tinggi dari permukaan air.

Percobaan 3 ( perahu karton dan sabun )

  • Pada percobaan ini, perahu karton dapat terdorong ke depan setelah diletakkan potongan sabun dibelakangnya.

Percobaan 4 ( pola korek api )

  • Pada percobaan ini, korek api yang diletakkan disekeliling sabun, bergerak menjauhi sabun.                                                
  • Pada percobaan ini, korek api yang diletakkan disekeliling gula batu, bergerak men-dekati gula batu.

Percobaan 5 ( lilin, air biasa, dan detergen )

  • Pada percobaan ini, air biasa yang di teteskan diatas lilin, tidak membasahi lilin dan bentuk butirannya tidak banyak berubah sedangkan larutan detergen yang di teteskan di atas lilin tampak membasahi lilin dan butir airnya menyebar.

Percobaan 6 ( saputangan, air biasa dan air panas )

  • Pada percobaan ini, sebelum direndam ke dalam air biasa dan air panas, terlihat kedua saputangan tampak kotor.
  • Setelah direndam di dalam air panas, sapu tangan yang semula kotor tampak lebih bersih dibandingkan sapu-tangan yang direndam di dalam air biasa.                                                                          

Percobaan 7 ( antiseptik )

  • Pada percobaan ini , luka yang diteteskan alkohol, darahnya menyebar dengan cepat.
  • Pada percobaan ini , luka yang diteteskan betadine, darahnya menyebar agak lama.

Pembahasan Hasil Percobaan

Percobaan 1 Praktikum klip kertas dan silet


Klip kertas dan silet dapat mengapung di permukaan air karena  adanya tegangan permukaan air. Silet dan klip kertas yang diletakkan dengan sangat hati-hati di permukaan air tidak akan tenggelam karena molekul-molekul air yang terletak di permukaan agak ditekan oleh gaya berat klip tersebut, sehingga molekul-molekul air yang terletak di bawah memberikan gaya pemulih ke atas untuk menopang klip tersebut, selain itu silet dan klip kertas tidak cukup kuat untuk merobek tegangan permukaan air.
Ketika diberi detergen klip kertas dan silet akan tenggelam karena larutan detergen tersebut menurunkan tegangan permukaan air. Sebagai hasilnya, berat klip kertas dan silet tidak dapat lagi ditopang oleh tegangan permukaan air sehingga klip kertas dan silet segera tenggelam.

Percobaan 2 Plastisin dan kelereng


Kelereng tidak tenggelam karena dialasi oleh plastisin yang massa jenisnya lebih kecil dibandingkan massa jenis air. Badan perahu yang terbuat dari plastisin dibuat berongga. Ini menyebabkan volume air yang dipindahkan oleh perahu menjadi sangat besar. Gaya apung sebanding dengan volume air yang dipindahkan, sehingga gaya apung menjadi sangat besar. Gaya apung ini mampu mengatasi berat total perahu dan kelereng sehingga perahu mengapung dipermukaan air

Percobaan 3 Perahu karton dan sabun


Adanya gaya kohesi antar molekul air khusus nya dibagian permukaan membuat sebuah lapisan tipis dan fleksibel yang disebut tegangan permukaan. Dengan menambahkan sabun ternyata akan memecah lapisan air sehingga membuat perahu melaju.

Percobaan 4 Pola korek api


Pada saat gula batu diletakkan ditengah-tengah wadah, korek api yang semula diam menjadi bergerak menuju ke gula batu tersebut (mengumpul). Pada saat gula batu berada di tengah wadah, gula batu menyerap sejumlah air. Suatu arus kecil mengalir menuju gula batu sambil menarik batang-batang korek api.

Pada saat sabun diletakkan di tengah- tengah wadah, korek api yang semula diam menjadi bergerak menjauhi sabun tersebut (menyebar). Pada saat sabun berada di tengah wadah, tegangan permukaan air dekat sabun menjadi lebih kecil, dan tegangan permukaan air disekitar tepi wadah menarik batang-batang korek api menjauh dari irisan sabun.

Gula batu memperbesar tegangan permukaan air sehingga batang- batang korek api tertarik oleh gula batu Sabun memperkecil tegangan permukaan air sehingga batang korek api menjauhi sabun

Percobaan 5 Lilin, air biasa, dan larutan detergen


Air biasa tidak membasahi lilin dan bentuk butiran nya tidak banyak berubah. Akan tetapi, tetes air yang mengandung detergen membasahi lilin dan butir air menyebar. Tampak bahwa detergen memperkecil tegangan permukaan sehingga air mampu membasahi lilin.

Percobaan 6 Saputangan, air biasa, air panas


Tegangan permukaan air berhubungan dengan suhu. Semakin tinggi suhu air, semakin kecil tegangan permukaan air, dan ini berarti makin baik kemampuan air untuk membasahi benda. Karena itu mencuci dengan air panas menyebabkan kotoran pada pakaian lebih mudah larut dan saputangan menjadi lebih bersih.

Percobaan 7 Antiseptik


Alkohol dan betadine memiliki tegangan permukaan yang kecil sehingga alkohol dan betadine dapat membasahi luka. Karena alkohol memiliki tegangan permukaan yang lebih rendah daripada betadine, luka yang ditetesi alkohol darahnya menyebar lebih cepat daripada luka yang ditetesi betadine.

Kesimpulan Hasil Percobaan


  • Massa jenis jarum dan silet lebih besar daripada massa jenis air, tetapi jarum dan silet dapat terapung hal ini disebabkan karena diatas permukaan air terdapat gaya gaya pada molekul-molekul air yang membentuk suatu lapisan atau membran elastis yang menegang.
  • Jika dijelaskan berdasarkan konsep massa jenis, massa jenis rata-rata perahu plastisin dan udara yang menempati rongga masih lebih kecil daripada massa jenis air. Itulah sebabnya perahu mengapung. Dengan menambah sabun ternyata akan memecah lapisan air dan membuat perahu melaju.
  • Gula batu memperbesar tegangan permukaan air sehingga batang- batang korek api tertarik olh gula batu Sabun memperkecil tegangan permukaan air sehingga batang korek api menjauhi sabun
  • Detergen memperkecil tegangan permukaan sehingga air yang tadinya tidak dapat membasahi lilin menjadi dapat membasahi lilin.
  • Tegangan permukaan air berhubungan dengan suhu. Semakin tinggi suhu air, semakin kecil tegangan permukaan air, dan ini berarti makin baik kemampuan air untuk membasahi benda.
  •  Alkohol dan betadine keduanya memiliki tegangan permukaan yang kecil, tetapi tegangan permukaan yang dimiliki alkohol lebih rendah dibandingkan betadine.

Tegangan permukaan berhubungan dengan peristiwa yang disebut kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis) dan adhesi (gaya tarik menarik antara molekul tidak sejenis). Bila cairan tersebut memiliki adhesi yang lebih besar daripada kohesi, makaakan terbentuk permukaan cekung, seperti permukaan air dalam wadah gelas.
Sementara kebalikan dari contoh tersebut adalah air raksa dimana permukaan air berbentuk cembung.
Tegangan permukaan berhubungan dengan peristiwa yang disebut kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis) dan adhesi (gaya tarik menarik antara molekul tidak sejenis). - See more at: http://phisiceducation09.blogspot.com/2013/04/tegangan-permukaan-dan-kapilaritas.html#sthash.QoC2Dndn.dpuf
Tegangan permukaan berhubungan dengan peristiwa yang disebut kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis) dan adhesi (gaya tarik menarik antara molekul tidak sejenis). - See more at: http://phisiceducation09.blogspot.com/2013/04/tegangan-permukaan-dan-kapilaritas.html#sthash.QoC2Dndn.dpuf
Tegangan permukaan berhubungan dengan peristiwa yang disebut kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis) dan adhesi (gaya tarik menarik antara molekul tidak sejenis). - See more at: http://phisiceducation09.blogspot.com/2013/04/tegangan-permukaan-dan-kapilaritas.html#sthash.QoC2Dndn.dpuf

Sumber:

wikipedia


Minggu, 26 Juli 2015

Tahu Belum Tentu Mengerti- Pelajaran dari Bloom's Taxonomy

Salah satu pernyataan klasik yang sering diucapkan oleh banyak orang tentang belajar adalah belajar tapi mengapa tidak faham, tidak mampu menyelesaikan masalah, dsb. Memang proses belajar tidak semudah yang kita kira. Belajar bukan hanya pergi sekolah, membaca buku pelajaran, mengerjakan soal dan selesai. Ada banyak proses yang harus dijalani dalam belajar dan terkadang proses itu sangat memakan waktu, membutuhkan banyak kesabaran dan banyak pekerjaan untuk dapat memahami dan menerapkan suatu pelajaran dalam kehidupan.

Jika kita membaca buku atau hadir dalam suatu seminar, yang kita lakukan adalah mengumpulkan informasi. Setelah mendapatkan informasi belum tentu kita mampu mengingat seluruh informasi tersebut. Hanya beberapa persen yang dapat kita ingat. Dari yang kita ingat itu, belum tentu kita dapat memahaminya, apalagi mengamalkannya. Contoh sederhana ketika kita belajar mengganti ban sepeda yang rusak. Pada tahap awal kita akan mengumpulkan informasi bagaimana cara mengganti ban tersebut dari berbagai sumber. Ketika selesai membacanya, belum tentu kita dapat langsung berhasil menerapkan informasi tersebut. Ada proses trial and error di sana. Ada masalah alat, kondisi sepeda yang berbeda, dll. Dari berbagai informasi tersebut kita harus memilih mana yang dapat dimanfaatkan, mana yang tidak. Untuk memilih dan menyusun kembali rencara menganti ban sepeda tentu kita perlu memahami informasi tersebut. Jika belum faham, tidak mungkin kita menerapkannya. Setelah memahaminya kita perlu menyesuaikan dengan kondisi yang kita temukan, baru setelah itu kita dapat mengganti ban sepeda. Proses ini dapat berlangsung dengan cepat dan lambat, tergantung dari banyak faktor seperti pengetahuan yang sudah kita fahami, pengalaman kita mengganti ban, dll. Semakin banyak kegagalan dan pengalaman yang kita alami, akan semakin banyak referensi dan semakin cepat kita mengganti ban sepeda kita.


Dari kasus di atas kita dapat mengetahui bahwa informasi saja tidak cukup dalam proses belajar. Ada banyak hal yang harus kita lakukan agar kita dapat mengerti dan mengamalkan ilmu yang kita pelajari. Jadi diperlukan suatu metoda pengajaran yang tepat dalam proses belajar. Salah satu metoda yang masih digunakan sampai tahun 2000 an adalah Blooms taxonomy. Blooms taxonomy ini adalah salah satu metoda pengajaran yang digagas oleh Bloom dan rekan rekannya pada tahun 50an. Metoda ini sudah banyak ddigunakan di dalam kelas dalam berbagai tingkatan dan telah mengalami berbagai kritik dan revisi sampai tahun 2000an (https://en.wikipedia.org/wiki/Bloom%27s_taxonomy).

Pada tahun 50-an Bloom menemukan bahwa banyak pelajar yang hanya mampu mengumpulkan informasi saja tanpa mampu memahaminya dan memanfaatkan informasi tersebut utnuk menyelesaikan masalah. Kemampuan berfikir seperti ini tentu saja cukup mencemaskan karena masih banyak level yang harus dicapai selain mengumpulkan data. Dari sini Blooms memberikan gagasan bari bagaimana meningkatkan cara belajar menuju tinkat yang lebih tingi (high order of thinking) bukan hanya mengetahui dan merumuskan masalah saja. 

Blooms taxonomy terdiri dari beberapa kelompok yaitu:
  • Knowledge
    Mengumpulkan data dan informasi
  • Comprehension
    Merumuskan masalah
  • Application
    Menerapkan pengetahuan ke dalam kasus
  • Analysis
    Mengetahui perbedaan kenyataan di lapangan dan teori
  • Synthesis
    Merangkai seluruh informasi yang ditemukan dan diketahui
  • Evaluation
    Memberikan penilaian
Kelompok taxonomy ini dapat kita manfaatkan untuk menyusun rencana belajar dari sejak usia dini sampai pada tingkat yang lebih lanjut. Yang perlu kita ingat bahwa belajar bukan hanya memberikan informasi saja tapi bagaimana menggunakan informasi tersebut, merangkainya menjadi informasi yang lebih lengkap dan memberikan penilaian terhadap kasus yang sedang dipelajari. ini membuat cara belajar dan target pembelajaran menjadi lebih luas. Beberapa kegiatan seperti membuat resep baru, membuat buku,  drama, majalah, komik atau film, membuat mesin hidrolik sederhana, mainan, desain bangunan, dll bisa menjadi contoh kasus untuk menerapkannya.

Dari bagian aplikasi, kita dapat mencoba menerapkan Ilmu pengetahuan alam dalam kegiatan sehari hari. Banyak hal menarik dari ilmu pengetahuan alam yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari hari antara lain:
  • Belajar prinsip kesetimbangan segitiga ketika memanjat pohon, naik tangga, dll. 
  • Belajar tentang inertia, kecepatan dan percepatan ketika sedang anik sepeda, 
  • Belajar bunyi dan kecepatan bunyi ketika mendengarkan petasan dan ingin mengetahui sumber bunyi petasan
  • Belajar massa jenis ketika ingin mengetahui logam pembuat bahan panci di dapur
  • Belajar kesetimbangan ketika memilih gelas atau meletakkan sendok di dalam gelas
  • Belajar pengukuran utnuk mengetahui akurasi ukuran sekrup
  • dan masih banyak pelajaran lain yang dapat dipelajari melalui buku atau percobaan dan permainan.

Sumber tentang Bloom's Taxonomy:

  • http://www.celt.iastate.edu/teaching-resources/effective-practice/revised-blooms-taxonomy/
  • http://teaching.uncc.edu/learning-resources/articles-books/best-practice/goals-objectives/writing-objectives
  • http://www.nwlink.com/~donclark/hrd/bloom.html

Sabtu, 20 September 2014

Mainan Dari Barang Bekas, Mengapa Tidak?

Ada banyak cara untuk bisa menghibur anak anak. Salah satu cara adalah dengan bermain. Permainan untuk anak sangat bervariasi dari segala benda yang bersifat elektronik, mekanik sampai pada action figure.  Ada juga permainan tradisional yang masih diminati dan tidak berubah fungsi dan bentuk rupanya dari zaman dahulu kala seperti layang layang, congklak, egrang, dll. Terkadang hanya dengan selembar kertas pun anak sudah dapat terhibur, mereka bisa membuat origami, paper craft atau pesawat kertas yang dapat dimainkan dalam waktu yang lama.

Mainan dari barang bekas terkadang seperti kurang bergengsi. Bagaimana tidak, bahannya adalah karet gelang, karton bekas kardus pembungkus, bekas stik es krim, dan batang kayu bekas yang sudah tidak dipakai lagi. Tapi sebetulnya ada banyak cara agar mainan dari barang bekas ini terlihat menarik dibandingkan mainan yang sudah jadi.

Permainan sebenarnya sudah dimulai pada saat anak anak mulai merakit barang bekas tersebut. Bagaimana merancang sesuatu yang terlihat sebagai sampah menjadi sesuatu yang berguna dan mewujudkannya menjadi benda nyata. Tentu saja akan banyak kesulitan yang ditemui anak anak untuk mewujudkan mainan yang diinginkannya, tapi itu akan menjadi pelajaran yang amat berharga bagi mereka. Mereka akan belajar ilmu tentang bahan, konstruksi, cara merakit, cara menggunakan alat pertukangan, dan lain lain.

Dan tentunya mereka akan lebih menghargai segala mainan yang mereka dapatkan baik yang mereka buat sendiri ataupun yang sudah jadi karena mereka sadar bahwa membuat mainan itu bukan hal yang mudah.

Dari segi ekologi, semoga kegiatan mereka membuat barang bekas menjadikan mereka lebih sadar tentang mengurangi limbah dan memanfaatkan kembali limbah yang ada menjadi barang yang berguna.

Dari segi biaya, akan lebih murah dan terjangkau. Anak anak dapat memiliki berbagai jenis mainan yang dapat bergerak sendiri seperti mobil mobilan dengan batre, perahu, robot, dan lain lain yang bahkan dapat dilengkapi dengan remote control buatan sendiri. Bayangkan jika membeli mainan baru seperti itu, harganya mungkin lebih mahal dibandingkan membuat sendiri. 
Ada beberapa contoh mainan yang terbuat dari barang bekas yang pernah dibuat sendiri antara lain:

Contoh mainan dari karton bekas

a. Untuk usia 9 tahun ke bawah

Mainan di bawah ini bisa dibuat oleh anak sampai usia sekolah dasar karena hanya terbuat dari karton dan barang barang sederhana.
b. Untuk usia  9 tahun ke atas

Mainan dari botol bekas, batre dan motor mainan sederhana (kalau ini sebaiknya menggunakan yang baru), batang kayu, dll.