Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 November 2016

Cerita Dari Seorang Guru Penghafal Al Quran

Guru penghafal Al Quran ini adalah seorang muslimah yang selain mengajar untuk menghafal Quran, beliau juga mengajar di salah satu perguruan tinggi papan atas di Bandung di jurusan dengan peringkat no 1 di dalam perguruan tinggi tersebut. Sekarang beliau sedang mendirikan sekolah pengahfal Al Quran dengan murid usia setara SMP dan SMA. 

Sekolah  ini tidak hanya mengajarkan murid untuk menghafal Al Quran, di sana mereka juga belajar materi akademik, dan materi fardhu ain. Di sana murid murid semua di asramakan dalam sebuah kompleks yang berkehidupan Islam. Pada pertengahan tahun 2016 ini beberapa muridnya ada yang berhasil melanjutkan sekolahnya di universitas Al Azhar di luar negri dan di beberapa PTN.

Ada beberapa hal yang menarik yang dia kemukakan tentang keadaan murid muridnya. Menurut pengamatannya, murid yang sudah menjalani program hafalan Quran dengan disiplin tertentu ini memiliki hati yang sangat sensitif. Maksudnya, kalau kita mengingatkan dan menasehati, mereka akan langsung merasa berdosa, jadi tidak perlu lagi memberi peringatan secara keras, karena ditegur dengan lemah lembut, mereka sudah menurut. 

Yang lebih menarik lagi, jika mereka melakukan sebuah kesalahan, mereka akan mengalami kesulitan dalam menghafal Al Quran. hal ini sudah beberapa kali terjadi dengan beberapa kasus yang berbeda.  Biasanya sang guru setelah melihat salah seorang muridnya mengalami kesulitan dalam menghafal, dia akan memberi waktu tambahan untuk muridnya mengevaluasi dirinya sendiri dan berfikir tentang kesalahan kesalahan yang pernah dibuat sebelumnya. Setelah itu sang guru akan memberikan masukan berupa nasehat dan ajakan agar muridnya mau memperbaiki dirinya.  Biasanya setelah ini murid tersebut dapat menghafal lebih baik dari sebelumnya. 

Saya jadi teringat, ada beberapa pelajar agama yang pernah melakukan kesalahan ketika belajar, lalu mereka jadi kehilangan hafalannya beberapa kitab. Padahal kesalahan tersebut bukan termasuk dalam dosa besar. Hal ini menunjukkan betapa Allah Maha Pengasih, terutama kepada hamba hambaNya yang sedang bersungguh sungguh. Karena Allah terlalu sayang, maka Allah selalu mengingatkan hamba hambaNya ketika berbuat kesalahan, walau itu kesalahan yang kecil saja. Tentu saja kita tidak boleh memandang sebuah dosa kecil sebagai sesuatu yang tidak berarti karena dari dosa kecil itu bisa menuju kepada dosa yang besar. Bagaimana mungkin kita mampu untuk mengkhianati Allah dengan dosa kecil padalah nikmat yang sudah Allah berikan pada kita sungguh luar biasa. 

Gambar dari: http://previews.123rf.com/images/zurijeta/zurijeta0911/zurijeta091100305/5898405-Muslim-praying-hands-Stock-Photo-muslim-prayer-islamic.jpg

Selasa, 12 Januari 2016

Hot Air Balloon Failure

Balon terbang adalah sesuatu yang cukup menarik untuk anak anak. Di beberapa tempat seperti di Wonosobo, balon udara dibuat dalam perayaan khusus seperti pada saat Hari Raya Idul Fitri. Video bisa dilihat di sini (Video dibuat oleh Mbak Dian Zakiyah Darajat sebagai Nara sumber): 



Anak anak di rumah ingin sekali melihat balon terbang. Itu sebabnya kami mencari referensi di internet tentang bagaimana cara membuat balon udara panas atau hot air balloon. Ada beberapa sumber yang dapat menjadi rujukan untuk membuat hot air balloon seperti di arvind gupta (disebut hot air bag yang terbuat dari kantong kresek belanjaan) dan di science toy maker. Science toy maker memiliki beberapa video di youtube yang menjelaskan dengan cukup detail mengenai cara membuatnya, lengkap dengan beberapa penjelasan science yang dapat dipahami oleh anak anak usia sekolah dasar.

Secara ringkas, cara kerja hot air balloon adalah mengisi balon dengan udara panas agar molekul udara bergerak lebih cepat. Tekanan udara di dalam balon udara menjadi lebih ringan dibandingkan di luar balon sehingga balon dapat naik ke atas. Pada balon udara, massa total balon udara harus dibuat seringan mungkin agar balon lebih mudah naik ke atas. Perlu juga diperhatikan bagaimana cara memanaskan balon udara yang tidak berbahaya. Untuk balon yang menggunakan bahan bakar minyak tanah, bensin dan api, harus diusahakan agar balon tidak dapat terguling dan api tidak dapat jatuh ke bawah. Arvind Gupta menggunakan toaster untuk memanaskan balon kantong kreseknya sementara science toy maker menggunakan lilin untuk bahan bakarnya.

Percobaan ini menggunakan lilin sebagai bahan pemanas balon. Hal yang pertama dilakukan adalah membuat dudukan untuk lilin dan memasang rangka tempat mengikat balon plastik. 


Awalnya hanya dua buah lilin besar yang dipakai dan wadah bekas kaleng minuman yang dipotong.

Balon udara yang siap diterbangkan
Ternyata setelah dicoba, balon tidak mau naik ke atas. Ada beberapa kemungkinan mengapa balon tidak mau naik ke atas antara lain: panas balon tidak cukup unuk membuat balon naik, atau berat total balon terlalu besar sehingga sulit untuk naik.

Percobaan berikutnya adalah menambah jumlah lilin agar lebih panas, serta mengurangi berat wadah lilin denagn mengganti kaleng aluminium dengan rangka batang dan aluminium foil. Lilin ditambah menjadi 4 buah.

Dudukan lilin diganti dan jumlah lilin ditambah menjadi 4 buah
Namun ternyata belum berhasil juga. Setelah itu jumlah lilin kembali ditambah dan lilin dipahat agar tidak menambah berat balon. Jumlah lilin yang digunakan kurang lebih sekitar 20 buah.

Lilin yang sudah dikecilkan dan ditambah jumlahnya agar api menjadi lebih besar

Lilin yang sudah dinyalakan
Awalnya balon plastik mulai menggelembung dan udara terasa cukup panas.

Balon mulai menggelembung panas

Tapi ternyata setelah lama menunggu, balon belum juga naik dan mulai meleleh karena panas dari api lilin.
Balon yang bolong

Video bisa dilihat di sini:


Setelah kejadian ini percobaan dihentikan sementara karena perlu mencari bahan  kantong plastik besar yang sesuai. Selain itu mungkin lebih menarik jika percobaan dilakukan dengan lebih terukur.

Ternyata setelah mempelajari lebih lanjut, membuat balon udara dengan lilin sebagai pemanas ini tidak mudah. Banyak sekali faktor yang berpengaruh pada balon udara antara lain:  lokasi, ketinggian dari permukaan laut, temperatur udara pada saat itu, ukuran balon, total massa pada balon, jumlah lilin, dll. referensi yang saya lihat adalah balon udara yang diterbangkan bukan di daerah tropis tapi daerah sub tropis sehingga memiliki iklim, ketinggian dan suhu udara yang berbeda dari negara tropis.

Masalah yang timbul ketika membuat balon ini adalah panas balon membakar plastik terlebih dahulu sebelum udara panas di dalam balon bertambah. Hal ini membuat plastik meleleh sebelum udara dipanaskan oleh lilin.  Solusinya mungkin dengan membuat memilih material plastik yang titik lelehnya lebih tinggi, dan juga cukup ringan, atau denagn mengurangi jumlah lilin agar panas di dalam kantong naik perlahan lahan. Solusi lain adalah dengan mengganti bahan plastik denagn bahan lain yang tidak mudah terbakar seperti kertas minyak.

Kita dapat memanfaatkan eksperimen yang telah dilakukan di: http://www.overflite.com/power.html sebagai studi banding. Untuk 1 cubic foot volume balon dengan 7 lilin dan memiliki gaya angkat 0.25 ounces apda suhu 20.5 derajat celsius. Untuk 5 cubic foot (0.141m3) denagn 20 lilin memiliki gaya angkat 1.25 ounces pada suhu 20.5 derajat celsius.

Kamis, 30 Juli 2015

Tips Cara Berbicara Kepada Anak Usia Pra Sekolah

Walaupun kita tidak mengeluarkan banyak tenaga ketika berbicara seperti ketika kita mencangkul tanah, tapi apa yang kita bicarakan akan berpengaruh pada lawan bicara kita dan orang lain yang mendengarkannya. Begitu hebatnya pengaruh lidah hingga kita perlu mengatur bagaimana kita berbicara. Hal yang serupa berlaku pada anak anak juga. Anak yang mendengarkan pembicaraan yang baik akan tumbuh menjadi anak yang suka berpandangan positif, berbaik sangka sehingga mendapatkan kemudahan untuk mengungkapkan ide ide dan cita citanya, berani untuk berkata beda, kreatif, dll. Berbeda denagn anak yang terbiasa mendengarkan perkataan negatif, dia akan cenderung memandang negatif apa yang telah dan akan dihadapinya, menutup diri dan mudah putus asa. Itu sebabnya ada banyak cara yang dapat dilakukan agar kita dapat membuat pembicaraan yang baik kepada anak untuk melatih diri kita sendiri dan untuk masa depan anak kita.

http://www.cliparthut.com/lonely-emotion-clipart.html

Anak anak pada usia pra sekolah antara 2-5 tahun (belum mumaiyiz) mengalami hal yang lebih buruk lagi. Mereka belum memiliki cara berfikir logis yang sempurna sehingga sulit untuk memahami perkataan lawan bicaranya. Namun intonasi, cara berbicara  yang buruk dan kasar dapat membuat mereka menjadi sedih, menutup diri atau putus asa. Pada anak usia pra sekolah ini kita dapat berbicara bukan hanya dengan kata kata tapi dengan rasa seperti dengan pelukan, gendong, dan lain lain.

Ada beberapa cara yang dapat diusahakan untuk menjaga agar kita dapat berbicara dengan baik pada anak usia pra sekolah antara lain:

  • Tunjukkan perhatian sebesar besarnya pada anak ketika berbicara. Caranya bervariasi, jika nyaman, kita dapat melakukan sedikit kontak fisik atau kontak mata seperti meletakkan tangan pada bagian pundak, menepuk lembut kepala, menyebut nama anak  metika terjadi kontak mata dan lain lain. Anak yang diperhatikan dengan baik akan memberikan respon yang baik juga.
  • Gunakan bahasa yang sederhana dan tidak terlalu panjang karena kemampuan berbicara anak yang masih terbatas agar anak mengerti yang kita bicarakan.
  • Berikan kata kata yang spesifik bukan yang umum seperti: Pakailah kaus kaki mu lalu sepatumu, bukan" ayo bersiap siap"atau .. "Jalanlah perlahan lahan" bukan "jalannya hati hati" (pada anak saya ini dijawab denagn "jalannya nggak ada hatinya... ")
  • Bicarakan hal hal yang penting saja dan tunjukkan dengan nada suara dan tindakan yang tepat. Jangan terlalu banyak memberikan pujian dan juga cacian agar puji dan caci menjadi lebih bermakna.
  • Setelah berbicara, tunggu dan perhatikan reaksi. Untuk beberapa anak reaksinya agak lambat. Jangan jawab sendiri pertanyaan yang sudah diberikan agar anak belajar memberikan respon. Menjawab sendiri pertanyaan kita akan membuat anak sibuk dengan pikirannya tanpa memperhatikan yang kita bicarakan.
  • Katakan apa yang dapat dilakukan, bukan yang tidak. Agar anak dapat membuat pilihan dari kata kata tersebut dengan baik.
  • Berikan semangat jangan meruntuhkan semangat agar anak dapat terus belajar dan mencoba.
  • Kurangi sedapat mungkin kata kata negatif (seperti: Gunakan pensil yang ada dikotak pensil berwarna biru, bukan :jangan gunakan pensil itu.) agar anak juga tidak mudah membuat kata kata negatif dan berpandangan negatif terhadap segala sesuatu.
  • Berikan pilihan yang mengarahkan seperti: "Mau cuci muka sendiri atau sama ibu?"  tapi bukan " kamu mau cuci muka nggak?" (dia bisa berkata tidak). Atau "kamu mau apa sekarang?" (dia bisa membuat pilihan yang tidak ada dalam pikiran kita seperti ingin langsung makan kue).
  • Gunakan larangan seperlunya agar bermakna. Larangan baru diberikan jika sudah dalam ambang batas seperti membahayakan keselamatan anak, merugikan orang lain, melanggar aturan yang sudah ditetapkan bersama, dll. Ketika kita melarang atau menegurnya, tunjukkan kalau kita tidak suka dengan perbuatannya, bukan tidak suka dengan dirinya agar dia berpandangan positif dengan larangan dan mengerti bahwa larangan diterapkan untuk kebaikan kita semua, bukan karena kita tidak suka dengannya.
  • Untuk anak yang sudah  mengerti perkataan lawan bicaranya, coba kita latih sedikit demi sedikit untuk belajar memahami instruksi. Jika anak kesulitan melakukan sesuatu, jangan langsung membantunya, gunakan kata kata yang sederhana dan jelas untuk mempermudah apa yang akan dilakukannya, jangan langsung turun tangan dan mengambil alih pekerjaannya. Jika sudah tidak mampu lagi, barulah kita turun tangan. Ini dapat meningkatkan kemampuannya untuk belajar memahami perintah secara verbal dan melaksanakannya.
  • Ajarkan anak anak untuk mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya lewat perkataan bukan dengan menangis atau merengek. Carikan juga solusi dari masalahnya dan buatlah hiburan yang bermanfaat agar anak tidak mudah putus asa.
  •  
    Walaupun kecil, cara berbicara ini akan memberi pengaruh pada anak anak apalagi jika hal ini dilakukan terus menerus setiap hari. Semoga anak anak terbentuk menjadi pribadi yang kuat, memiliki pandangan positif, tidak mudah menyerah dan terus semangat untuk belajar meningkatkan kemampuannya.

Minggu, 07 Desember 2014

Hal Yang Perlu Diketahui Guru Matematika


Gambar diambil dari sini
Kalau ada seseorang yang tiba tiba mengajak anda untuk menjadi guru matematika, apa yang akan anda lakukan? kalau hal itu terjadi kepada saya, terus terang saya akan bingung untuk memulai dari mana. Karena bidang matematika ini sungguh luas dan hampir setiap kegiatan kita sehari hari pun menggunakan matematika. Apalagi jika yang diajar adalah anak anak usia sekolah dasar.... tentu kita tidak ingin anak anak kehilangan waktunya untuk mempelajari hal hal yang penting karena ilmu ini akan menjadi bekal bagi mereka kelak, tapi juga tidak ingin waktunya sia sia karena mempelajari hal hal yang tidak perlu dan tidak dipakai dalam kehidupannya. Dari pada bingung  berkelanjutan, lebih baik kita mencari informasi dari orang lain yang sudah berpengalaman menjadi matematika.

Saya memilih Marilyn Burn menjadi salah satu nara sumber tentang pelajaran matematika anak anak sekolah dasar. Beliau menjadi guru sejak tahun 1962 dan telah menulis banyak buku. Buku bukunya banyak yang berisi tentang pendidikan matematika sekolah dasar. Ia juga menulis beberapa buku komik untuk anak anak yang menarik dan bisa dijadikan bahan selingan mengajar jika anak anak sedang bosan belajar matematika.Beberapa hal yang disampaikan oleh Marilyn Burns cukup menarik dan bisa menjadi masukan untuk orang yang sudah dan ingin mengajar matematika.

Wacana yang diberikan oleh Marilyn Burns antara lain adalah belajar matematika tidak sama denagn berhitung. Walaupun berhitung adalah bagian dari matematika, tapi matematika sendiri jauh lebih luas dari berhitung dan mencongak. Jangan berfikir ketika kita sudah mengajarkan perkalian tiga digit dan pembagian kita sudah mengajarkan matematika. Yang sebenarnya kita ajarkan adalah prosedur standard dalam menghitung perkalian. Hal ini menjadi sangat berbeda jika kita berbicara tentang matematika. Ruang lingkup matematika lebih luas dari berhitung dan dapat dipelajari dengan berbagai cara.

Walaupun setiap anak harus dilatih untuk berhitung dengan baik, seperti kita latihan teknis ketika bermain piano sebelum bermain sonata, atau berlatih mencampur dan gradasi warna sebelum membuat lukisan, atau membuat banyak coretan sebelum menggambar denagn teknik pensil, tapi tujuan kita belajar matematika bukan hanya untuk berhitung, tapi lebih dari itu, menyelesaikan masalah denagn alat bantu matematika.

Marilyn Burns telah  menemukan anak anak yang tidak dilatih utnuk berfikir secara matematis belum tentu dapat untuk menyelesaikan soal cerita atau soal yang berbeda dengan soal berhitung. Contohnya, untuk perhitngan sederhana  seperti penjumlahan dan pengurangan sudah diajarkan di sekolah anak anak mampu mengerjakannya tapi ketika diberi soal cerita, mereka terdiam. Ada beberapa yang meminta petunjuk dari gurunya dan bertanya" ditambah atau dikurang? ".

Tentu saja ini menunjukkan ada hal lain yang belum dikuasai sehingga mereka tidak memiliki keberanian untuk menyelesaikan soal tersebut sendiri.  Persoalan ini semakin memuncak ketika ternyata soal cerita yang diberikan oleh guru jumlahnya tipikal. Dari pengalaman pribadi ketika menemani anak mengerjakan soal matematika sekolah dasar, soal cerita yang diberikan sifatnya tipikal, sehingga jika anak sudah menemukan cara utnuk mengerjakan soal ke satu, ia akan menduplikat cara kerjanya ke soal ke 2 ke 3 dst. Ternyata hal ini juga terjadi pada beberapa anak yang diteliti oleh Marilyn Burns.

Tentu saja hal ini jauh sekali dari yang diharapkan. Kita bisa menggunakan mesin hitung dan alat lain untuk menggantikan tugas menghitung, tapi mesin hitung tidak dapat memberikan penyelesaian dari suatu masalah baik yang bersifat sederhana ataupun kompleks. Lebih jauh lagi, akibat dari kita hanya melihat matematika sebagai ilmu berhitung yang prosedural, kita tidak mampu menghubungkan kegiatan matematika denagn masalah yang nyata dalam kehidupan sehingga lambat laun ilmu matematika akan menjadi asing dan terpisah dari kehidupan nyata. Pemisahan itu seharusnya tidak terjadi karena berhitung dan memecahkan masalah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Pendekatan mengajar dengan menggunakan prosedur matematika standard dalam berhitung seperti perkalian dua digit, dll juga memiliki banyak kekurangan, salah satunya tidak melatih dan membuat siswa memiliki kemampuan dan keberanian untuk bereksperimen dan menemukan sendiri cara menyelesaikan persoalan matematika. Cara ini bisa membuat anak anak melupakan matematika ketika pelajaran matematika sudah usai dan kurang tertark dengan matematika (math is so boring...!).

Berbeda jika anak dilatih untuk menemukan sendiri atau membuat cara sendiri menyelesaikan masalah. Dia akan lebih memahami dan mampu menyelesaikan soal yang diberikan. Hal ini ditemukan oleh Marilyn Burns ketika dia memberikan soal cerita tentang pembagian dan meminta anak anak menyelesaikannya sendiri denagn cara apapun. Marilyn Burns menerima semua cara yang dipakai oleh anak anak dan membicarakannya bersama  mereka. dari pembicaraan ini ia bisa melihat
bagaimana cara anak berfikir dan menyelesaikan soal.

Soal yang bersifat problem solving adalah wacana yang menarik untuk mengajar matematika. Sayangnya tidak semua mampu untuk membuat soal seperti ini dalam jumlah yang banyak. Dengan soal problem solving, bukan juga berarti kita menghilangkan unsur latihan berhitung di dalamnya tapi kita menggabungkan soal problem solving dan berhitung menjadi satu kesatuan. Ada beberapa cara yang diberikan oleh Marilyn Burns utnuk membuat soal matematika seperti:

1. Menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari hari seperti ketika membeli barang, membagikan makanan, mengatur waktu kegiatan, memasak, membuat prakarya, merajut, dll. Ada banyak sekali kegiatan sehari hari  yang bisa dilakukan untuk menjadi soal matematika.

2. Membuat soal matematika dari buku cerita. Ada beberapa buku cerita yang bisa dipakai untuk berlatih matematika. Buku seperti puzzle dapat langsung dipakai untuk berlatih, contohnya buku seperti ini:

Kita juga bisa membuat soal tambahan dari buku yang sudah ada untuk berlatih atau kalau ada waktu luang membuat buku cerita sendiri.  Dari buku seperti ini anak anak belajar untuk menerapkan ilmu berhitungnya menjadi alat utnuk memecahkan masalah. 

3. Membuat model matematika denagn alat yang sederhana seperti kertas, sedotan, balok kayu, dll. Benda seperti ini membuat anak anak bisa melihat dengan kongkrit soal matematika yang biasanya diwakili denagn angka, lebih mudah memahami soal yang diberikan, melatih untuk menyelesaikan soal cerita ke dalam model yang lebih sederhana,melatih numbersense, belajar mencoba menyelesaikan soal matematika dengan caranya sendiri, dll.

4. Mengajak anak untuk membuat soal matematika sendiri dari pelajaran yang sudah dipahami. Ini akan menunjukkan seberapa jauh pemahaman anak anak terhadap pelajaran yang diberikan.

Selain cara di atas, ada banyak lagi kegiatan yang dapat dibuat untuk melatih matematika. Kita bisa menghubungkan seni, arsitektur, musik, tari tarian, dll dengan matematika. Ada banyak permainan dan puzzle yang membuat anak berfikir  secara matematis seperti permainan catur, congklak, sudoku, kakuro dll yangbisa dimanfaatkan utnuk berlatih matematika.



Minggu, 16 November 2014

Anak-anak Homeschooling Yang Lulus Universitas

Praktisi homeschooling dari awal tahun 2000an sampai sekarang terus bertambah dengan berbagai variasi perkembangannya. Ada banyak sekali metoda yang dlakukan dalam homeschooling. Terlepas dari berapa banyak yang melakukan homeschooling dan apa metodanya, pada beberapa tahun belakangan ini praktisi homeschooling mulai memperlihatkan buahnya. Anak anak yang mampu menamatkan pendidikan di usia muda mulai bermunculan antara lain:

Nurul Syahid Kusuma atau Enes Kusuma

  • ● Lulus S1 dari Universitas di Singapura pada usia 18 tahun
  • ● Peraih Young Changemaker Ashoka Foundation 2009 sebagai anak muda peduli sampah
  • ● Pendiri Komunitas Bright Bride (https://www.facebook.com/thebrightbride dan http://www.thebrightbride.com/)
  • Ibu dari Enes Kusuma adalah Septi Peni Wulandani, seorang aktivis homeschooling , founder situs Ibu Profesional.
Socmed:
Sumber:

Andi Rizki Putra

Andri Rizki Putra
● Ikut SMA hanya 1 tahun
● Belajar SMA mandiri hingga masuk Fakultas Hukum Universitas Indonesia
● Lulus Cumlaude di usia 20 tahun
● Pendiri sekolah gratis untuk anak putus sekolah

Sumber:

Fari Aulia Ruzwar

Ibunya bernama Moi Kusman. Fari Aulia Ruzwar telah menamatkan pendidikannya di Program Vokasi  Program Studi Komunikasi Peminatan Periklanan UI.
Sumber: http://moi-kusman.blogspot.com/2014/08/laporan-karya-akhir-dan-skripsi-anak.html

Amira Hasna Ruzwar 

Ibunya bernama Moi Kusman. Amira Ruzwar telah menamatkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Budaya Program Studi Ilmu Filsafat UI.
Sumber: http://moi-kusman.blogspot.com/2014/08/laporan-karya-akhir-dan-skripsi-anak.html

Emil 

Ada juga Emil, anak dari Asti Toro yang memulai homeschooling sejak kelas 5 SD karena tidak tahan denagn kasus bullying di sekolahnya. Sekarang Emil sedang kuliah di Universitas Life Science Jakarta. Bekerja sama dengan pemerintah Swedia, double degree dan ada internship, ambil fakultas Bio Enterpreneurship.

Sumber:

Dan mungkin masih banyak lagi anak anak lainnya yang masih dalam proses homeschooling yang  hasilnya belum dipublikasikan di media massa. 


Selasa, 11 November 2014

Anak Itu Ibarat Kertas Putih, Orang Tua dan Pendidik Yang Mewarnainya

Salah satu hadits Nabi yang berkesan bagi saya adalah:

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, dan Nashrani, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah ada telinga yang terputus?. (dari Abu Hurairoh).

Dari hadits ini tersirat bahwa tanggung jawab pendidikan anak anak itu berada di tangan kedua orang tuanya serta pendidiknya. Hasil dari pendidikan ini akan mulai terlihat ketika anak sudah mulai akil baligh. Usia akil balih adalah usia di mana setiap manusia telah dewasa dan dianggap mampu menunaikan kehidupannya secara mandiri lengkap denagn segala konsekuensinya. Jika setiap anak mendapatkan pendidikan yang baik dan benar, masyarakatlah yang akan mendapat banyak manfaat darinya, sementara jika proses pendidikan tidak dilakukan denagn benar, masyarakat juga yang harus menanggungnya. itu sebabnya dalam skala besar, pendidikan ini juga merupakan tanggung jawab masyarakat bersama.

Dari hadits tersebut sebetulnya banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang ada di dalam benak saya, dan alhamdulillah mulai banyak juga pengalaman dan ajaran yang saya dapatkan denagn proses belajar dan mengajar di rumah. Ternyata faktor didikan dan bentukan orang tua memiliki pengaruh yang besar bukan hanya dalam bidang agama saja, tapi juga dalam cara hidup dan juga pendidikan yang lain. Beberapa hal yang saya temukan di rumah adalah:


  • Minat dan bakat anak. 

Jika kita bicara minat dan bakat anak ada beberapa pendapat. Ada yang berfikir bahwa setiap anak sudah diberikan rezeki yang berbeda beda, ada yang memiliki kelebihan di bidang verbal, visual dan gerak. tapi ternyata tidak semudah itu menentukan minat dan bakat anak. Memang ada beberaoa yang sanagt berbakat sehingga kita tidak bisa menebak nebak lagi ke mana kira kira arah anak anak tersebut, tapi ada juga yang belum terlihat apa apa. Seperti apa pun anak anak kita, sebenarnya sebelum akil baligh, kita perlu mengenalkan semua bidang yang dapat dipelajarinya sehingga wawasannya menjadi lebih terbuka. Proses ini perlu dilakukan terus menerus sebelum anak betul betul yakin bidang apa yang disukainya. Hasil dari penemuan ini bisa terjadi dalam waktu 1 tahun, 2 tahun 5, tahun atau bertahun tahun setelah itu, tapi denagn membuka wawasannya, dunia anak akan terbuka lebar utnuk mendalami apa saja yang dibutuhkannya kelak. Lebih baik memiliki 10 keahlian daripada hanya memiliki 1 keahlian saja bukan?

  • Lingkungan dan Suasana Belajar 
Usahakan agar lingkungan anak selalu nyaman dan konsisten sehingga anak selalu bersemangat untuk belajar apa saja. Pendidik dan orang tua sangat menjadi panutan dalam hal ini. Contohnya jika kita ingin agar anak anak mau belajar menghafal al Quran, kita perlu menyediakan waktu yang memadai dan suasana yang santai. Keterlibatan kita untuk ikut menghafal dan menjaga agar semangat menghafal tetap berkobar kobar sangat penting, kalau perlu sebisa mungkin kita bisa memberikan rasa bahwa menghafal al quran itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Hal ini harus kita berikan secara istiqomah bertahun tahun, sampai akhirnya sang anak muali menikmati pekerjaannya dan dapat melakukannya sendiri.

  • Pelajaran Akademik Yang Cukup Sulit

Matematika fisika kimia dan embel embel pelajaran lain yang sulit sering dihindari dan kurang disukai, apalagi jika anak tidak dapat menyelesaikan soal soal yang dikerjakannya sendiri. Kita perlu mencari nara sumber dari penulis yang betul betul telah menikmati bidang fisika matematika dan kimia dan berharap dari buku dan kegiatan yang diikuti oleh anak anak dapat menimbulkan minat dan membuat anak lebih bersemangat dalam belajar. Ini pun berlu waktu lebih daru 1 tahun untuk membentuk anak agar mulai suka denagn pelajaran pelajaran tersebut. Tapi ini adalah hal yang cukup penting mengingat banyak sekali peristiwa sehari hari yang tidak dapat diselesaikan jika kita tidak menguasa ilmu ilmu dasar tersebut.

  • Pentingnya Ilmu Agama
Kita sangat beruntung karena agama Islam memiliki ilmu yang sangat rinci dan lengkap tentang segala hal yang berhubungan denagn kehidupan sehingga kedua pelajaran antara agama dan kehidupan sehari hari sangat terkait dan dapat saling bantu membantu. Contohnya dalam hal tawakal dan kesabaran. Denagn modal ini diharapkan anak anak mampu menyelesaikan masalah dan tidak malu untuk bertanya jika bingung atau melakukan kesalahan dalam tugas dan pekerjaannya. Ilmu ilmu fardhu ain yang berhubunagn denagn akidah syariat dan tasawuf adalah pakel pelajaran agama yang wajib dilakukan pada anak anak agar ketika akil baligh mereka telah mendapatkan modal dan kekuatan utnuk bertahan dalam kehidupan.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Usamah Bin Zaid, Suri Tauladan Generasi Muda Di Masa Ini, Apakah Hanya Sebuah Mimpi?


Nama ini cukup populer sebagai contoh generasi muda yang cemerlang di zaman Rasulullah. Beliau mampu memimpin pasukan perang dalam usia yang sangat muda- kurang lebih 18 tahun dan beliau dipilih langsung oleh Rasulullah SAW menjadi pemimpin perang. Peristiwa ini dapat memberikan beberapa pandangan terutama dalam proses pendidikan generasi muda pada umumnya. Usamah telah menjadi bukti dalam sejarah bahwa jika proses pendidikan dilakukan dengan baik dan benar, pada usia yang masih sangat muda seseorang sudah dapat melakukan hal hal yang luar biasa.

Bagi orang tua dan guru yang menginginkan kemajuan bagi generasi muda mungkin banyak yang bercita cita agar anak didiknya meneladani Usamah bin Zaid. Bayangkan jika remaja dalam usia yang sangat muda sudah memiliki banyak karya... mungkin tidak semua berbakat menjadi pemimpin, ada yang berbakat di bidang seni, ilmu alam, bahasa, dll.... dan semua sungguh sungguh mengembangkan karyanya.... akan tercipta sumber daya manusia dengan kualitas yang sangat baik yang berguna bagi masyarakat. Tapi sebelum kita terlanjur mabuk denagn mimpi mimpi itu, tidak ada salahnya jika kita mengenali sedikit tentang Sayidina Usamah bin Zaid dan proses pendidikan yang dialaminya....

Orang Tua

Ibunya Ummu Aiman, ayahnya Zaid bin Haritsah, keduanya adalah sahabat Rasulullah yang masuk dalam golongan yang paling dulu memeluk agama islam. Ummu Aiman adalah pengasuh Rasulullah yang berstatus sebagai budak kepunyaan ayahnya Abdullah bin Abdul Muthalib. Beliau dimerdekakan oleh Rasulullah setelah Rasulullah menikah dengan Siti Khadijah. Bapaknya Sayidina Zaid bin Haritsah, seorang budak yang diangkat menjadi anak oleh Rasulullah. Jika ada yang mengatakan anak yang soleh terbentuk dari ibu yang solehah dan bapak  yang soleh, ini adalah salah satu contohnya. 

Soleh dan solehah bapak ibunya jauh sekali di atas gelar soleh dan solehah yang ada pada zaman ini. Bayangkan, menjadi orang yang paling awal memeluk agama Islam, diburu, dihina, diasingkan bahkan disiksa oleh kaum kafir. Masa itu adalah masa yang paling berat, dan mereka mampu menjalaninya dengan kekuatan dan kesabarannya. Setelah itu masa hijrah. Ummu Aiman berhijrah ke Habsyi lalu ke Madinah. Hijrah ke Madinah dilakukan dengan berjalan kaki, dalam keadaan berpuasa. Setelah itu masa peperangan. Ummu Aiman turut membantu memberikan air dan mengobati luka prajurit Islam. Suaminya yang pertama wafat, anaknya Aiman juga syahid di medan perang.

Sayidina Zaid bin Haritsah adalah salah seorang yang sangat disayangi oleh Rasul. Beliau adalah anak angkat yang lebih memilih untuk tinggal bersama Nabi dibandingkan dengan bapak kandungnya. Padahal kehidupan Nabi sungguh sederhana, bahkan penuh dengan ujian terlebih ketika Muhammad sudah diangkat menjadi Rasul. Tapi ini tidak membuatnya mundur, beliau setia mendampingi Nabi dalam setiap keadaan, hijrah, peeprangan dan apapun. Beliau sangat taat kepada Rasul, sampai ketika memilih pasangan hidup, Rasul lah yang menentukannya. 

Tanpa berfikir panjang, beliau sanggup mengajukan diri untuk menikahi Ummu Aiman. Bayangkan, Sayidina Zaid bin Haritsah adalah anak angkat Nabi, sementara Ummu Aiman adalah pengasuh nabi, bisa dibayangkan jauhnya usia yang terpaut antara keduanya. Sepertinya, hal yang mendorong Sayidina Zaid bin Haritsah meminang Ummu Aiman adalah perkataan Rasul yaitu: siapa yang akan menikahi Ummu Aiman akan menjadi ahli syurga. Beliau mendapatkan apa yang diinginkannya denagn syahid di medan perang. Dan ternyata bukan cuma syahid yang didapatnya, ia pun mendapatkan zuriat yang tangguh: Sayidina Usamah bin Zaid.

Kita tidak bisa membayangkan hebatnya ibu dan ayah Usamah bin Zaid. Kecintaannya dan pengorbanannya pada Islam, pada Allah dan Rasul begitu besar yang dibayar dengan memberikan segala galanya untuk Allah dan Rasul, jiwa dan raganya.

Guru

Guru Sayidina Usamah adalah Baginda Rasulullah. Sebaik baiknya guru yang ada di sepanjang zaman. Seperti apakah Rasulullah mendidik Usamah? bagaimana jurus jurusnya? tidak ada yang tahu dan tidak akan ada yang mampu. Namun kita bisa belajar dari beberapa hadits dan sirah yang ada. Rasulullah mendidiknya dengan penuh kasih sayang yang tepat. Ketika masih kecil, Rasulullah sering menimang dan memangku Usamah bersama sama denagn cucunya Sayidina Hasan RA. Ketika Usamah terluka, Rasulullah yang merawat dan menghibur Usamah. Dan ketika Usamah sudah beranjak besar, Rasulullah juga yang menegur Usamah ketika salah dalam bertindak dengan cara yang berhikmah. Teguran itu sampai akhir hayat Sayidina Usamah tetap diingatnya, dan ia sudah bertekad untuk tidak kembali melakukan kesalahan yang sama.

Lingkungan

Bisa dikatakan Sayidina Usamah lahir dan besar dalam lingkungan yang penuh kedamaian dan kebaikan. Pada masa itu pembangunan Islam mulai berkembang. Jumlah pengikut Islam semakin bertambah, dan pada masa itu Rasulullah masih ada di tengah tengah umat Islam sebagai pemimpin dan pendidik. Umat Islam ketika itu mengalami dan menyaksikan sendiri wahyu diturunkan, peperangan dan perjuangan dilakukan bersama sama dengan Rasulullah. Tujuan hidup mereka sangat jelas, untuk memperoleh keredhoan Allah dan Rasul. Pada masa itu bukan harta benda yang menjadi barang berharga, tapi apa yang dapat mereka buat untuk menunjukkan cinta dan pengorbanan mereka kepada Rasulullah SAW. Dalam usia di bawah 15 tahun, banyak sekali pemuda yang berusaha agar dapat ikut serta dalam berbagai peperangan. Dan Usamah bin Zaid termasuk salah satu pemuda yang pernah bersedih karena belum diizinkan untuk ikut berperang. 

Bagaimana jika dibandingkan dengan lingkungan kita sekarang? berapa banyak pemuda pemudi yang telah memiliki cita cita tinggi untuk Allah dan Rasul? dengan berbagai permasalahan yang ada sekarang, nampaknya kita masih jauh sekali.....

Materi Pendidikan

Semoga kita bisa mencontoh materi pendidikan apa saja  yang pernah disampaikan kepada Usamah dan pemuda pemudi islam ketika itu.....Tujuan pendidikan ketika itu sangat sederhana, dan setiap orang dari berbagai kalangan, tingkatan dan berbagai kemampuan mampu mengikutinya jika mereka bersungguh sungguh. Materi pendidikan ketika itu adalah Iman Islam dan Ihsan. Dari ketiga pokok bahasan ini dapat diuraikan lagi ilmu fardhu ain dan ilmu fardhu kifayah. Ilmu ini diamalkan oleh setiap muslim sampai akhir hayatnya, dari hal hal yang bersifat keyakinan, perbuatan dan adab adab. Ilmu selain itu boleh dicari, tidak pernah disembunyikan, dihalang atau dibatasi, apalagi yang membawa dampak positif bagi ummat. 

Secara teknis, ilmu tidak pernah dibatasi di kalangan muda dan tua. Rasulullah menyampaikan wahyu kepada seluruh manusia. Jika ilmu wahyu saja tdiak disembunyikan, apalagi ilmu lain yang sifatnya tidak wajib. Setiap orang boleh mencari ilmu dan berlatih dengan proses magang. Contohnya, sebelum Sayidina Usamah menjadi panglima perang, beliau telah mengikuti beberapa kali peperangan, sehingga telah memiliki kemampuan teknis dan mengetahui suasana peperangan. Sebelum beliau diizinkan untuk menjadi prajurit perang pun beliau telah berlatih agar dapat diterima menjadi prajurit perang. Denagn latihan dan proses magang ini, ilmu beliau semakin bertambah. Tentu saja banyak ilmu yang didapatkan langsung ketika beliau turut dalam peperangan. salah satunya adalah teguran dari Rasulullah. Teguran yang diberikan oleh Rasul tidak menjadikannya mundur, tapi membuatnya menjadi lebih berhati hati dalam mengambil keputusan dalam peperangan. 

Bagaimana dengan masa sekarang? .......


Sabtu, 20 September 2014

Jika Anak usia 1 - 2 Tahun Sulit Makan

Biasanya anak pada usia 1 sampai 2 tahun pernah mengalami masa 'tidak mau makan'. Ketika mengalami hal tersebut, biasanya orangtua pernah mengalami masa kebingungan, bahkan berkonsultasi pada dokter. Tapi sebetulnya kita tidak perlu terlalu kuatir jika anak masih dalam keadaan sehat dan aktif serta berat dan tinggi badannya tetap bertambah walaupun sedikit, sebetulnya anak masih dalam kondisi normal dan hampir sebagian besar anak pernah mengalami masa 'tidak mau makan'. Sebagai referensi silahkan lihat di sini dan sini. kecemasan yang timbul apda orang tua adalah hal yang normal karena pada masa di bawah 5 tahun anak sedang mengalami pertumbuhan dan sebaiknya dapat memiliki asupan makanan yang baik agar tumbuh sebaik baiknya. Kekurangan gizi pada masa ini dapat pula berpengaruh pada perkembangan fisik anak. Kita dapat mengetahui apakah anak kurang gizi dengan mempelajari seberapa banyak nutrisi yang diperlukan utnuk anak seperti di sini dan sini.

Ada faktor lain yang perlu kita ingat ketika anak mencapai usia 2 tahun yaitu pada masa ini anak baru belajar untuk makan dengan baik dan benar setelah sebelumnya nutrisi anak banyak dibantu oleh susu (ASI). Jadi jika pada masa ini anak tidak mau makan itu adalah hal yang wajar karena ia masih belajar. Karena masih belajar, pada masa ini adalah masa yang paling penting bagi orangtua untuk mengajarkan bagaimana makan yang baik dan benar, menggunakan indra lidahnya untuk mencicipi berbagai rasa makanan, juga mendidik anak utnuk belajar menghargai makanannya dan bersyukur denagn makanan yang ada.

Jadi pada masa ini ada hal yang lebih penting dari pada masalah anak tidak mau makan, yaitu bagaimana mengajari anak bersikap yang baik dan benar terhadap makanan. Sebetulnya pendidikan tentang makanan telah berlangsung sejak dalam kandungan. Jika ibu hamil rajin memakan berbagai jenis makanan dari sayuran, buah, dll, kemungkinan besar sang anak tidak akan mengalami kesulitan makan sayur dan buah. Anak yang suka denagn berbagai jenis makanan tidak akan kesulitan untuk menghargai segala jenis makanan.

Ada banyak hal yang dapat kita lakukan ketika anak usia 1 sampai 2 tahun mulai belajar makan yaitu:

1. Mendidik anak agar memiliki sikap yang baik dan benar terhadap makanan antara lain:

  • Ada disiplin ketika makan seperti jadwal makan yang rutin, adab makan yang baik seperti membaca doa makan dalam keadaan duduk, dll. Memang ini bukan hal yang mudah untuk diajarkan pada anak, tapi kita bisa menetapkan beberapa standard dan tujuan. Jika anak belum mampu melakukannya, jangan dipaksa karena ini akan membuatnya menjadi tidak suka dan menolak. Biarkan dia, tapi berikanlah contoh yang baik dari kita. Ketika kita makan bersama, kita dapat memberi contoh dengan melakukan adab makan tersebut dengan baik dan benar.
  • Mengajari anak untuk bersyukur denagn makanan yang diterimanya.Tentu saja sebelumnya kita pun harus yakin bahwa kita telah memberikan makanan yang baik dan sehat padanya. Jika dia belum dapat menikmati makanan yang diterimanya, kita dapat makan bersama dengannya dan menunjukkan bahwa kita betul betul menikmati makanan yang dimakan dan bersyukur kepada Tuhan karenanya. Kita dapat mengenalkan berbagai jenis makanan denagn berbagai rasa pada anak dan mengajarinya untuk merasakan makanan yang sedang dimakannya. Berikan dalam jumlah sedikit, jika ia suka, ajari ia untuk meminta tambahan makanan dengan baik. Jika tidak, biarkan dulu, mungkin ia masih berusaha mengenal dan menyesuaikan diri denagn rasa makanan yang ada. 

2. Menyiapkan makan

Pekerjaan menyiapkan makanan sebaik baiknya adalah saalh satu tugas yang harus idlakukan oleh orangtua. Pilihlah makanan yang sehat, baik dan segar karena makanan seperti ini kemungkinan besar disukai semua orang. Sesuaikan jumlah makanan dengan usia anak. pada masa ini anak membutuhkan protein yang cukup, sedikit karbohidrat, lemak, banyak vitamin dan banyak zat besi. Mungkin pada masa ini kita dapat melihat anak sulit sekali disuruh makan nasi dan hanya makan lauknya saja karena memang ia belum membutuhkan banyak karbohidrat.

3. Pekerjaan lain bagi orang tua yang tidak kalah penting adalah pengamatan.

  • Amati cara makan anak, ada anak yang suka makan sendiri dan tidak suka disuapi, ada yang suka disuapi dengan sendok, ada yang suka disuapi dengan tangan. Ada anak yang makan sedikit sedikit tapi sering, ada yang langsung dapat menghabiskan 1 piring makanan yang disediakan, ada yang hanya mampu menghabiskan setengah piring.  Jika anak sudah gelisah dan mulai bergerak gerak ketika makan, ada kemungkinan dia sudah merasa kenyang. Kalau asupan gizinya masih kurang kita dapat menawarkan cemilan ringan pada waktu yang lain. Biarkan anak bermain sejenak sebelum kembali menawarkannya makanan.  
  • Periksa kembali apakah anak memiliki alergi atau kesulitan makan karena alat pencernaannya belum dapat mengolah makanan dengan baik. Ada beberapa anak yang memang belum mampu menelan serat yang agak kasar seperti serat daging sapi. Jika ini terjadi kita dapat menyesuaikan makanan tersebut dengan membuatnya menjadi bakso, memotongnya kecil kecil, membuatnya menjadi lunak, atau mengganti makanannya dengan makanan lain yang kandungannya relatif sama. 
  • Periksa juga kondisi fisik anak lainya seperti:  susunan gigi anak, apakah sudah baik atau belum. Ada anak yang susunan giginya tidak rata sehingga dia tidak mau makan karena tidak suka ada makanan yang terselip ke dalam giginya.
  • Periksa juga aktivitas sehari hari anak. Jika ia kurang berolahraga atau melakukan aktivitas fisik, kemungkinan besar ia belum lapar dan lelah karena masih menyimpan banyak energi.
  • Periksa kembali pertumbuhan anak melalui berat badan dan tinggui badan serta kesehatan anak. Jika masih dalam batas normal, tidak usah terlalu risau.


Sabtu, 12 Juli 2014

Cara Memberikan Motivasi Pada Anak Agar Mau Belajar Shalat


Salah satu pendidikan penting bagi seluruh anak soleh solehah adalah belajar shalat. Shalat itu adalah ibadah yang selalu dilakukan setiap hari yang menjadi kewajiban umat Islam sejak akil baligh sampai ke liang lahat. Kalau dia sudah dibiasakan untuk mengerjakan shalat sejak kecil, ia tidak akan menemui kesulitan untuk melakukannya secara rutin ketika sudah dewasa. Lebih baik lagi semoga jika ia melakukannya dengan rutin, ia akan mendapatkan banyak manfaat dari shalat baik dari segi lahiriahnya dan juga batinnya. Dia akan biasa untuk menghadap Allah, mengadu dengan Allah, meminta dengan Allah, membesarkan Allah, dsb. Semoga dengan itu mudah baginya untuk memperbanyak sifat sifat baik dalam dirinya dan membuang sifat buruk dalam dirinya. Jika ia sudah bisa merasakan nikmatnya melakukan shalat tentu akan ada semacam kerinduan dalam dirinya jika waktu adzan tiba, sehingga melakukan shalat sudah dibuatnya bukan atas dasar kewajiban, tapi atas dasar kebutuhan dan kerinduan utnuk bisa menghadap Allah. 

Tapi bagaimana caranya ya? terus terang saya juga belum menemukan formula yang tepat. Saya menunggu juga komentar dan masukan dari para pembaca yang memiliki pengalaman mengajar shalat pada anak anaknya. Di bawah ini adalah beberapa pengalaman yang bisa saya ceritakan dan apa yang saya pernah dapat dari berbagai sumber ketika mengajak anak untuk shalat: 

  • Lingkungan sebagai suri tauladan. Kita sebagai orangtuanya dan juga orang orang yang di sekitarnya  memiliki kewajiban untuk memberikan contoh pada anak anak. Kalau kita bisa menunjukkan pada anak betapa pentingnya arti shalat bagi kita sendiri, maka anak pun akan menghargainya. Kita bisa menunjukkannnya denagn bersiap siap shalat sebelum waktu datangnya shalat. Hal ini tentu tidak mudah apalagi bila di dalam rumah masih banyak anak yang di bawah usia 5 tahun yang harus diurus. Kita harus mempersiapkan kegiatan untuknya ketika kita sedangmelakukan shalat, menanyakan apakah ada yang mau buang air besar atau air kecil,dll.
  • Tunjukkan juga kalau kita rindu dengan shalat dan merasa rugi kalau ketinggalan shalat berjamaah di awal waktu. Semoga dengan itu anak anak juga bisa merasakan pentingnya shalat. kalau perlu bisa juga kita menunjukkan penyesalan kita ketika malam tertinggal shalat tahajud kepada anak sehingga anak juga mengenal shalat tahajud dan keutaman keutamaannya.
  • Banyak berikan penghargaan daripada hukuman. Jika anak dihukum, dia akan merasakan shalat sebagai suatu beban dan tidak akan melakukannya dengan nyaman.
  • Gunakan kata kata sederhana bagi anak di bawah usia 5 tahun, manfaatkan juga imaginasi mereka karena pada tahap ini logika belum tentu bisa diterima dengan baik oleh mereka. 
Jadi apalagi yang bisa dilakukan ya, agar anak dapat melakukan ibadah shalatnya dengan bersemangat.







Jumat, 11 Juli 2014

Belajar Menjadi Rakyat Yang Baik


Ibu mau pilih siapa? si ini atau si itu? itu pertanyaan si Sulung pada saya sebelum Pemilu...dengan banyaknya komentar di media sosial tentang figur pemimpin beberapa waktu ini memang memancing kita semua untuk ikut berkomentar dan memberikan pendapat. Cuma karena ini bulan Ramadhan,takut juga kalau berkomentar yang tidak perlu, atau bahkan memberikan komentar yang negatif, atau salah salah memberikan opini yang salah yang nantinya bisa menjadi fitnah... memang serba salah.... Apalagi anak anak di rumah masih di bawah 17 tahun, jadi masih belum bisa mengikuti pemilu....

Jadi kurang lebih ini yang saya ceritakan pada anak anak di rumah.... Anak anak, fulan fulanah, sudah pernah mendengar cerita Mohammad Sultan Al Fateh kan? apa yang terjadi pada waktu itu? Sultan Al Fateh sudah terdidik sejak kecil, bahkan sebelum akil baligh sudah istiqamah melaksanakan shalat wajib, sunnat dan shalat tahajud dan tidak pernah ada yang tertinggal dari lahir sampai Beliau menjadi panglima perang.... tapi ternyata hal yang sama diikuti juga oleh rakyatnya....rakyatnya yang  menjadi serdadunya tidak pernah meninggalkan shalat fardhunya....

Nah begitu disinggung shalat, semangat untuk berkomentar langsung berkurang.....hihihi apakah mereka membaca arah dari pembicaraan saya atau tidak ya?? masak harus bikin daftar absen shalat? tapi yang jelas pada mundur teratur dari semangat membicarakan orang....

Jadi suatu negara dalam level yang luas, atau masyarakat dalam level yang lebih sempit dan juga keluarga... bukan hanya membutuhkan pemimpin yang baik tapi juga membutuhkan rakyat yang baik.... segala sesuatu yang hebat tidak terjadi dari satu pihak saja. Pemimpin yang baik membutuhkan rakyat yang baik agar cita cita bersama dapat dicapai bersama sama. Tanggung jawab pemimpin memang berat sekali di mata Tuhan, tapi tanggung jawab menjadi rakyat juga tidak ringan. Dalam Al Quran kita sudah mendengarkan kisah bagaimana rakyat yang tidak baik tidak dapat mencapai cita citanya walaupun berada di bawah pimpinan yang baik... walaupun tentu saja dengan pemimpin yang tidak baik, semua rakyat baik atau tidak menjadi menderita....

Nah daripada sibuk berkomentar tentang pemimpin yang ada bagaimana kalau kita berusaha saja mempersiapkan diri kita, memperbaiki diri kita untuk menjadi rakyat yang baik agar dapat membantu pemimpin kita .. karena pemimpin yang baik hanya untuk rakyat yang baik.

Sabtu, 05 Juli 2014

Jika Anak Berbohong

Berbohong bukan satu mata pelajaran yang dimasukkan ke dalam raport. Sifat ini juga hampir tidak disebutkan dalam kriteria kelulusan pelajar. Walaupun menyontek dan plagiat adalah satu hal tentang kebohongan yang menjadi masalah dalam dunia pendidikan, namun tidak ada suatu cara atau kegiatan khusus yang dilakukan untuk mencegahnya. dalam dunia yang lebih besar lagi, berbohong jelas akan menimbulkan berbagai masalah baik di dunia kerja, keluarga, dan lain lain. Lalu apa landasan ilmu yang dapat dipakai untuk mendidik anak membuang kebiasaan berbohong?

Bagi saya, salah satu cara yang paling mudah adalah melalui pendidikan Agama. Dalam Islam, kejujuran  termasuk  dalam pendidikan akhlaq. Dan kebohongan adalah akhlaq buruk yang harus dimusnahkan karena dapat merugikan diri sendiri dan orang lain di masa sekarang dan masa datang. Akhlak yang baik adalah sebuah sikap yang sangat diperlukan terutama dalam kehidupan anak di masa datang. Akhlak yang baik tidak datang dengan begitu saja mengikuti perkembangan fitrah karena dalam perjalanan hidupnya anak akan bertemu denagn lingkungan dan peristiwa-peristiwa yang secara tidak sadar akan membentuk dirinya menjadi sebuah pribadi tertentu. Pendidikan sifat baik atau akhlak atau dapat juga disebut pendidikan karakter ini adalah satu hal penting yang harus ditanamkan pada anak sejak anak siap menerimanya, dalam Islam, pendidikan ini dimulai sejak dalam kandungan.

Kecewa

Mungkin itu perasaan kita ketika mengetahui anak sedang berbohong. Apalagi jika selama ini ia terlihat sebagai anak yang baik dan jujur. Berbohong memang sesuatu yang perlu diluruskan karena akan berpengaruh pada pendidikan dan pengasuhan anak selanjutnya. Jika anak terus berkata tidak benar, kita akan sulit untuk mendidik dan mengasuhnya karena tidak mengetahui keadaannya, perasaannya dan pikirannya. Berbohong juga membuat anak sulit untuk membedakan mana yang benar dan tidak, membuat anak menjadi gugup dan gelisah serta sulit berkonsentrasi. Kesulitan ini akan mempengaruhi perkembangan intelektual dan mental anak. Anak akan berjiwa lemah dan sulit belajar.

Jika kita tarik kembali tentang berbohong dengan Agama, ada beberapa dampak besar lain yang dapat ditimbulkan dari berbohong.Dalam Islam, berbohong adalah suatu yang tidak disukai oleh Tuhan dan memiliki banyak hukuman bahkan di dunia. Orang yang  berbohong tidak akan masuk dalam daftar perawi hadis walaupun ia hanya berbohong kepada hewan, tidak masuk ke dalam kriteria menjadi saksi, bahkan jika berdagang, tidak dapat dipercaya.  Sebaliknya kejujuran adalah harta yang sangat bernilai yang dapat meninggikan derajat seseorang baik di dunia dan di akhirat.

Ternyata banyak sekali keburukan yang dapat ditimbulkan dari kebohongan. Di sini tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk mendidik akhlak anak anak sejak kecil. Anak berbohong memiliki banyak sebab yang dapat dihindari, dan diselesaikan masalahnya melalui pendidikan dalam keluarga. Jangan putus asa, ada banyak yang dapat kita lakukan agar anak tidak berbohong.


Betulkah Anak Berbohong?


Pertama periksa dulu, benarkah anak sudah berbohong, berimajinasi atau dia tidak bermaksud untuk berbohong. Ingat, ketika kita salah  membuat tuduhan, anak juga akan kecewa kepada kita. Bagaimana tidak, anak yang sudah berusaha jujur, tiba tiba mendapat tuduhan berbohong dari orang yang  paling dekat dengannya. Ini akan menyebabkan rasa ketidak percayaan akan tumbuh pada anak dan ia cenderung menutup diri. Jadi, walaupun anak sudah pernah berbohong, atau sering berbohong atau belum pernah sama sekali, kita harus melakukan penyelidikan secara seksama sebelum melepas vonis bahwa ia berbohong.



Mengapa Anak Berbohong


Kalau bisa kita juga harus menyelidiki mengapa ia berbohong. Ada beberapa kemungkinan mengapa anak berbohong antara lain :

  • Anak sedang berimajinasi. Untuk usia antara 0 sampai 7 tahun (dalam Islam dikategorikan sebagai belum mumayiz) anak dianggap belum mampu untuk menggunakan logikanya secara konsisten dan belum mampu menerima segala konsekuensi segala perbuatannya dengan baik.

  • Anak butuh perhatian lebih dari kawan dan orang terdekatnya sehingga dia berbuat apa saja termasuk berkata tidak benar.

  •  Jika ketika anak berbohong anak tetap tidak diperhatikan, anak yang kurang perhatian akan merasa  berkata benar ataupun tidak, tidak memberikan pengaruh apapun bagi dirinya dan lingkungannya sehingga dia tidak menganggap berkata tidak benar ini sebagai suatu kesalahan.

  • Anak dididik terlalu keras oleh orang tuanya sehingga tidak berani untuk berkata benar karena takut mendapat hukuman yang berat

  • Anak berbohong karena pengaruh lingkungan. Mungkin dia meniru perilaku kawannya yang mendapatkan manfaat dari berkata tidak benar. Hati hati juga, bisa saja dia meniru dari kita yang tanpa sadar pernah membohonginya.

Yang Dapat Dilakukan Untuk Mencegah Anak Berbohong


Dari beberapa kemungkinan di atas, kita tidak dapat menyalahkan anak anak. Apalagi jika kita telusuri sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap perilaku tersebut adalah kita sendiri sebagai orangtuanya. Komunikasi yang baik dan kasih sayang adalah salah satu hal yang dapat dilakukan untuk menghentikan perilaku anak tersebut. Jangan terburu emosi dan menyalahkan anak bahkan menghukum anak karena hal tersebut juga dapat menyebabkan anak menjadi tertekan, lari dari permasalahan atau memiliki hubungan yang buruk dengan orang tuanya.

Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah agar anak tidak berbohong lagi antara lain:

  • Jika anak membutuhkan perhatian dan kasih sayang berikan secukupnya. Berikan pengertian pada anak bahwa perhatian dan kasih sayang diberikan bukan karena anak sedang  berbohong atau menarik perhatian orang tuda dengan cara negatif seperti yang dilakukannya, tapi perhatian dan kasih sayang akan selalu diberikan sebagai seorang ibu dan bapak kepada anak anaknya.

  • Berikan rasa aman dan tenang pada anak, serta pengertian bahwa ibu dan bapak bisa memahami dan mencoba memberikan solusi masalah jika anak berbuat kesalahan. Raihlah kepercayaan anak agar dia mau berbicara apa saja termasuk kekurangan dan kesalahannya. Bimbinglah anak agar tidak melakukan kesalahan yang sama.

  • Untuk anak yang sudah Mumaiyiz, diatas 5 tahun, ajak anak untuk berbicara sesuai dengan bahasanya. Berikan pengertian bahwa kita tidak boleh berbohong melalui cerita, suri tauladan, atau obrolan ringan ketika sedang makan bersama.

  • Beri contoh dan tauladan yang baik mulai dari kita sendiri. Jangan sekali kali berbohong baik di depan anak ataupun di belakangnya.

  • Jaga lingkungan dan pergaulan anak agar anak terhindar dari mencontoh perbuatan yang kurang baik dari lingkungannya. Perhatikan kawan kawannya, apa yang ditontonnya dan apa yang dibacanya. Berikan masukan baginya jika menemukan kebohongan. Jika itu adalah kawannya, mungkin ia dapat mengingatkannya, jika itu adalah buku atau film, mungkin kita bisa menganalisa dan membicarakannya bersama.

  • Jangan lupa untuk selalu mengingatkan keberadaan Tuhan kepada anak. Tuhan yang selalu melihat mendengar dan mengetahui isi hati kita. Tuhan yang tidak suka dengan akhlak yang buruk, termasuk berbohong.

  • Jangan lupa untuk terus mendoakan anak setiap waktu agar menjadi anak yang baik, beragama, takut kepada Tuhan yang Maha Esa, sayang kepada manusia, bumi dan seiisinya. 


Selasa, 24 Desember 2013

Mari Mendidik Anak Sebaik-baiknya

Sabda Nabi SAW:
"Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah maka kedua ibu bapa merekalah yang menjadikan mereka Yahudi atau Nasrani atau Majusi."
Hadits Rasulullah di atas menunjukkan bahwa anak-anak adalah titipan Alah kepada orang tua. Adalah tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak anak sebaik baiknya agar kelak dapat menjadi hamba dan khalifah yang memperjuangkan nama Tuhan di muka bumi ini.Kelak para orang tua akan ditanya di akhirat apakah sudah bersungguh sungguh mendidik anak anaknya. Anak yang soleh dan solehah akan membantu kedua orangtuanya di akhirat kelak sementara anak yang durhaka akan membebani kedua orang tuanya. Doa anak soleh dan solehah menjadi amalan yang tidak terputus ketika kedua orang tuanya meninggal. Selain kepada kedua orang tuanya anak soleh dan solehah dapat memberi manfaat pada lingkungan dan masyarakat sekitarnya.

Bagaimana Mendidik Anak yang Baik dan Benar

Orang tua harus memahami betul betul bahwa posisi orang tua terhadap anak adalah pendidik, sementara anak adalah yang dididik. Seorang pendidik harus dapat mengetahui seperti apa ia membentuk anak anaknya dan dengan cara apa. Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena Islam telah memberikan panduan sebaik baiknya dalam mendidik anak sehingga jika ilmu tentang pendidikan anak ini telah lengkap, Insya Allah kita tidak akan salah langkah.
Setiap manusia sejak lahir sudah diberi 3 potensi yang dapat dikembangkan yaitu potensi rohani (Jiwa dan hati) , Jasmani dan Akal. Ketiga potensi ini tumbuh berkembang sesuai dengan umurnya. Setiap pendidik perlu mengetahui didikan apa yang dapat diberikan sesuai dengan umurnya.

Perkembangan Jasmani

Jika jasmani dididik dengan baik, anak akan menjadi sehat dan kuat. Anak dengan stamina fisik yang prima adalah aset yang sangat berharga karena energi nya berguna untuk belajar dan berbakti pada masyarakat. Anak yang jarang sakit memiliki kesempatan dan waktu untuk berkembang lebih baik dibanding anak yang sering sakit.
Islam sangat memperhatikan pendidikan jasmani. Ini terbukti dari Hadits Rasulullah:
[ الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ ]
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.” (HR. Muslim).
“Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah”[HR. Bukhari- Muslim]
Ajaklah anak untuk berolah raga, melakukan aktivitas sehari hari dalam rumah, dan melakukan pekerjaan fisik lain yang bermanfaat. Sesuaikan aktivitas dengan tingkat usianya. Berikan anak makanan yang halal dan baik. Makanan yang haram dapat berpengaruh buruk pada perkembangan rohaninya.

Perkembangan Akal

Dengan menggunakan akalnya manusia dapat membuat berbagai teknologi yang mempermudah kehidupan di dunia. Akal bersifat sebagai alat bantu, ia bukanlah inti dari suatu pendidikan. Jika manusia telah dididik dengan baik, ia akan menggunakan segala akalnya untuk kebaikan, jika ia tidak mendapatkan pendidikan yang baik, ia akan menggunakan akal untuk kepentingan dirinya saja.
Manusia yang tidak menggunakan akal dalam kehidupannya bisa saja selamat di akhirat, tapi ia tidak dapat membawa kemajuan peradaban di dunia.
Berikanlah anak sarana untuk mengembangkan pertumbuhan akalnya dengan banyak membaca dan mengamati alam sekitar. Jangan lupa untuk selalu memasukkan rasa bersyukur terhadap nikmat Allah, rasa kagum terhadap ciptaan Allah, jika anak mendapatkan ilmu ilmu baru. Berilah kesempatan anak untuk bereksplorasi, bereksperimen dan mendesain sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya sesuai dengan usianya.

Perkembangan Rohani

Perkembangan Rohani adalah inti pati dari sebuah pendidikan. Pendidikan rohani ini sangat penting karena ini yang menjadikan seorang manusia menjadi baik ataupun tidak.Sebaiknya pendidikan rohani ini diberikan pada anak sejak lahir, bahkan sebelum lahir. Sampai saat ini belum ada formula yang dapat dipakai untuk dapat mendidik mental dan jiwa seseorang. Rohani manusia sangat sulit untuk dilacak karena ia tidak dapat dilihat secara kasad mata.

Pendidikan anak laki-laki dan anak perempuan

Anak laki laki perlu dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. Seorang laki-laki adalah pemimpin, sekecil-kecilnya rakyat yang akan dipimpinnya nanti adalah keluarganya. Walaupun dalam masyarakat ia mendapatkan posisi menjadi rakyat yang perlu untuk patuh pada pemimpinnya, tapi dalam keluarganya ia akan menjadi pemimpin dan akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat kelak.Seorang laki-laki harus memastikan dalam keluarganya Islam sudah ditegakkan dalam kehidupan sehari ha-i, Tuhan selalu diingat, dicintai dan ditakuti, Nabi dan Rasul menjadi suri tauladan sehari hari. Godaan dan tantangan yang dihadapi seorang laki-laki cukup banyak dan ia harus mampu mengatasinya. Godaan seperti harta, jabatan dan wanita akan mampu diatasi jika ia memiliki bekal iman dan taqwa yang cukup.
Anak perempuan dipersiapkan untuk menjadi pendukung. Potensi-potensi yang dimiliki oleh anak perempuan perlu dikembangkan semaksimal mungkin agar ia dapat menjadi pendukung dalam perjuangan masyarakat dan keluarganya. Ia juga perlu belajar menjadi pengikut yang taat sehingga mudah untuk taat kepada Allah Rasul dan suaminya.
Beberapa perbedaan dalam pendidikan anak laki laki dan perempuan dalam Islam antara lain:
  • menjelang usia akil baligh seorang anak laki-laki perlu mulai dipersiapkan untuk belajar mandiri.
  • Anak laki-laki tidak boleh memakai baju berwarna warni dan yang terbuat dari sutra.
  • Anak laki-laki sekali-kali perlu dilatih untuk tidur di tempat tidur yang keras dan kasar supaya semua anggota tubuhnya menjadi keras dan kuat serta tubuhnya tidak gemuk.

Pendidikan Anak Soleh dan Solehah Jelas Berbeda


Siapa yang tidak ingin mendapatkan anak soleh solehah yang menjadi sebaik baik perhiasan di dunia, penghibur hati, serta menjadi penolong kita di akhirat kelak. Anak soleh solehah selain menghibur juga menjadi salah satu amalan yang tidak putus walaupun orangtuanya telah menemui ajalnya.
Terdapat beberapa hal yang membedakan pendidikan anak soleh dan solehah dengan pendidikan anak anak biasa antara lain:
  1. Mendidik untuk cinta Allah dan Rasul serta selalu merasakan kehadiran Allah dan Rasul di mana saja kapan saja
  2. Memiliki semangat untuk memperjuangkan Islam
  3. Mencintai akhirat sebagai tujuan akhir setiap manusia 
  4. Tidak takut dengan kematian dan kesusahan
Tujuan tersebut seolah olah memang mustahil untuk dilaksanakan, karena cara mendapatkannya sangat sulit, cara memeriksa keberhasilannya juga sangat sulit karena hampir seluruh tiap parameternya bersifat abstrak dan tidak terukur secara kasat mata.

Pendidikan Anak Bayi Sampai 2 Tahun

Setiap bayi yang dilahirkan ibarat kain putih, suci bersih. Mereka belum terkena pengaruh apa pun.
Sabda Nabi SAW:
"Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah maka kedua ibu bapa merekalah yang menjadikan mereka Yahudi atau Nasrani atau Majusi."

Pendidikan Rohani pada Bayi

Pendidikan pertama terbaik yang dikenalkan pada anak adalah mengenalkan Allah dan Rasul, agar terwarnai hati mereka dengan perasaan yang benar , yaitu perasaan cinta dan takut kepada Tuhan. Pada usia ini bayi belum dapat berfikir ataupun bertindak dengan akal mereka karena otak bayi masih dalam pertumbuhan. Namun bayi sudah dapat merasa dengan hati. Apa yang mereka rasakan dapat memberikan pengaruh yang besar pada pertumbuhan mereka baik secara jasmani dan rohani.
Setiap orang yang berada di dekat bayi dapat membawa didikan dan pengaruh kepada sang bayi. Lingkungan tempat mereka berada juga sangat berpengaruh pada bayi. Usahakan bayi diasuh oleh orang-orang yang mengusahakan taqwa dalam lingkungan Islam.
Beberapa hal yang sebaiknya dilakukan untuk bayi adalah sebagai berikut:

1. Perkenalkan anak dengan doa

Mereka sejak kecil telah diperkenalkan dengan Allah dan Rasul-Nya melalui azan dan iqamat. Doa yang dibacakan itu juga adalah sebagai pendidikan secara tidak langsung. Doa adalah pengharapan ibu bapak kepada Allah agar Dia mendidik dan memelihara anaknya itu menjadi anak yang soleh. Doa juga sebagai latihan awal menjadi hamba yang tawadhuk (merendah).
Seorang hamba yang baik senantiasa merendah diri dan merasa hina di hadapan Allah. Mereka merasa lemah dan berdosa terhadap Allah, dengan itu doa selalu dipanjatkan. Perasaan begini akan berpengaruh kepada jiwa anak itu, semoga mereka menjadi baik akhlaknya.

2. Perkenalkan anak dengan cara hidup Islam

Islam memiliki cara hidup yang tidak sama dengan cara hidup bukan Islam. Disiplin yang dibangun dalam Islam tidak dibuat-buat, tapi terbangun dengan sendirinya secara serentak jika kita mengamalkan syariat Islam. Contohnya ibadah wajib shalat, puasa, serta amalan sunnat seperti membaca Alquran, tahlil dan salawat.
Bahkan ketika kita mengadakan pesta/kenduri, Islam telah memiliki panduan yang lengkap. Anak yang dibiasakan untuk menyaksikan shalat berjamaah, tahlil dan salawat, mengaji Al Quran, serta kenduri dengan cara Islam tentu akan berbeda denagn anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang tidak Islami.

Perhatikan juga dengan cermat apapun yang akan kita berikan kepada bayi seperti mainan, musik yang didengar juga makanan. Jaga penglihatan dan pendengaran bayi sebaik baiknya. Jangan sampai bayi ini melihat ataupun mendengarkan hal-hal yang tidak baik. Berikan sepenuh kasih sayang kepadanya dan wujudkan kasih sayang itu dengan cara memeluk, mencium, membelai dan sebagainya.
Jaga pendengarannya daripada musik-musik yang membuat terlena atau lagu-lagu yang sia-sia, sebaliknya alunkan nasyid, tahlil, selawat dan zikir ketika menimang-nimangnya.

Pendidikan Akal Dan Fisik pada Bayi

Menyusui

Bagi ibu yang menyusukan anak hendaklah menjaga makanannya karena air susu itu bersumber dari makanan yang ibu makan setiap hari.Seandainya susu ibu terbentuk dari bahan yang haram, hal akan berpengaruh negatif kepada anak.
Batas waktu untuk menyusukan bayi adalah usia dua tahun. Artinya, setelah dua tahun ibu boleh berhenti menyusuinya.
Ketika menyusu, anak paling dekat dengan ibunya; bayi itu dididik secara tidak langsung di 'sekolah ibu' dan sudah pasti banyak ilmu yang didapat oleh bayi seperti ilmu kasih sayang, latihan bercakap dan sebagainya.

Kewajiban memberi makanan yang bersih

Makanan yang dimakan akan mempengaruhi hati. Makanan yang halal akan menjadikan seseorang itu baik. dan sebaliknya makanan yang haram akan menggelapkan hati dan membentuk seseorang menjadi jahat.
Oleh karena itu cara makan anak-anak hendaklah diawasi sejak kecil agar mereka tidak makan makanan yang haram atau syubahat. Makanan haram yang dimaksudkan di sini meliputi segala makanan yang diharamkan oleh Allah dari segi pengadaan dan penyajiannya atau makanan yang dibeli dengan uang yang haram.

Pendidikan Anak Dalam Kandungan

Pendidikan seorang anak telah dapat dilakukan ketika sang bayi masih di dalam kandungan.
Seorang ibu yang sedang mengandung mempunyai banyak pahala kebaikan seperti dikabarkan dalam sebuah hadis berikut ini. Nabi SAW bersabda:
"Apakah redha, hai golongan wanita, bahwasanya seorang wanita yang sedang hamil dari suaminya, yang telah dinikahi dengan halal (menurut syariat Islam), Allah membenkan pahala kepadanya sebagaimana pahala orang berjihad fisabilillah. Apabila ia merasa sakit untuk melahirkan anaknya maka ia mendapat pahala yang banyak sekali sehingga manusia tidak mengerti seberapa banyaknya pahala itu. Apabila telah lahir lalu disusui, bagi ibu itu setiap satu tegukan dari susunya Allah memberi dia pahala satu kebaikan. Apabila si ibu semalaman tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah memberi pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah."
(Riwayat Al Hassan bin Safwan, Thabrani Jan Ibnu As Sahir dan Salamah yang menyusukan Sayidina Ibrahim putera daripada Rasulullah).
Namun demikian sebagian besar ibu yang mengandung mudah hilang kesabaran karena merasa tidak nyaman. Jauhilah sifat pemarah, merajuk dan sebagainya agar anak yang dilahirkan jiwanya kuat dengan kebaikan.
  1. Jaga adab-adab, contohnya jangan makan sambil berjalan, durhaka kepada suami dan lain-lain, karena akhlak ibu yang mengandung akan mempengaruhi watak dan akhlak anak dalam kandungannya.
  2. Dilarang menyakiti atau menyiksa binatang, dikuatirkan balasan Allah ditimpakan kepada anak yang dikandung.
  3. Pergaulan suami isteri hendaklah beradab
  4. Pendidikan anak-anak berawal sebelum ayah dan ibu menikah. Sebab itulah sangat penting pemilihan jodoh dan juga majlis akad nikah harus dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam.
Janin yang sedang tumbuh besar lebih-lebih setelah kandungan berusia enam bulan adalah makhluk yang pandai dan memiliki berbagai kemampuan diantaranya:
  1. Janin dapat melihat, mendengar dan belajar di dalam kandungan.
  2. Perasaan gelisah, resah, yang sukar diatasi sudah memberi pengaruh buruk kepada pribadi bayi sebelum lahir. Sebaliknya perasaan seperti riang gembira dan pengharapan memberi satu masukan positif dalam perkembangan emosi bagi bayi.
  3. Perasaan bapak (suami) kepada ibu (isteri) dan anak yang dikandungnya juga adalah faktor terpenting yang menjamin keberhasilan dan kesempurnaan pertumbuhan bayi dalam rahim.
Berdasarkan sensitifnya perasaan janin itu, para ibu bapak perlulah:
  1. Mementingkan soal-soal kebaikan dan dalam waktu yang sama menjauhi keburukan.
  2. Yang paling utama, si ibu hendaklah selalu bersangka baik dengan Allah. Untuk itu berdoalah kepada Allah agar anak yang sedang dikandung itu menjadi anak soleh, berilmu, beriman dan bertaqwa
  3. Perbanyak membaca Al Quran dan menghayati isinya terutama Surah At Taubah, Surah Maryam, Surah Yusuf dan Surah Luqman
  4. Surah-surah itu sebaik-baiknya dibaca di waktu setelah shalat Subuh dan sebelum tidur
  5. Bacalah di samping mengharapkan anak yang dikandung itu selamat dan mudah dilahirkan.
  6. Membaca dan menghayati kisah-kisah orang soleh zaman dahulu.
Secara ringkas, seorang ibu yang sedang mengandung itu hendaklah menjaga:
  1. Penglihatan
  2. Pendengaran
  3. Percakapan
  4. Makan minum
  5. Sikap

Tahap-Tahap Pendidikan Anak

Dalam mendidik seorang anak soleh/solehah, terdapat beberapa tahap yang ditempuh. Tahap-tahap itu adalah sebagai berikut:
Tahap-tahap pendidikan sebelum anak lahir
  1. Sebelum orangtua menikah
  2. Ketika orangtua melangsungkan pernikahan
  3. Kehidupan keluarga orang tua
  4. Ibu mengandung
  5. Ibu melahirkan
Tahap-tahap pendidikan setelah anak lahir
  1. Bayi : 0 sampai dengan 2 tahun
  2. Anak-anak : 2 sampai 6 tahun
  3. Anak mumayiz : 7 sampai 9 tahun
  4. Persiapan akil baligh : 10 sampai 12 tahun
  5. Remaja akil baligh: 13 sampai 18 tahun
Tahap yang paling penting ialah di tahapan 0-2 tahun dan tahapan 3-6 tahun. Pada usia ini anak sangat mudah terbentuk oleh lingkungannya, dan hal-hal yang sudah terbentuk pada usia ini akan sangat sulit diubah setelah si anak besar (usia 7 tahun ke atas).
Pada tulisan-tulisan selanjutnya akan diuraikan detail dari masing-masing tahap tersebut.

Tujuan Pendidikan Dalam Islam

Tujuan utama pendidikan dalam Islam ada 2 buah yaitu
  • Melahirkan manusia yang hidupnya selalu beribadah kepada Allah
  • Melahirkan manusia yang sanggup menjadi khalifah (wakil/duta) Allah di muka bumi
Pendidikan dalam Islam bukan sekadar melatih seorang anak agar sewaktu besar mendapatkan harta, kekayaan dan kedudukan, namun lebih daripada itu adalah bagaimana supaya si anak tersebut setelah dewasa dapat menjadi hamba yang baik dan dapat juga bermanfaat bagi seisi dunia. Dengan demikain pada akhirnya anak tersebut akan selamat di dunia dan di akhirat.
Peranan manusia untuk menyembah Allah telah disebutkan dalam firman-Nya:
Terjemahan: "Tidak aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku" (Adz Dzariat : 56)
Peranan manusia sebagai khalifah / wakil / duta di muka bumi disebutkan dalam firman-Nya:
Terjemahan: "Sesungguhnya Aku akan menjadikan di muka bumi seorang khalifah" (Al Baqarah 30)

Para Pelaku Dalam Pendidikan Anak

Dalam pendidikan seorang anak terdapat beberapa pelaku yang yang terlibat sebagai berikut
  1. Anak
  2. Orang tua
  3. Guru

Anak

Seperti apa anak yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh didikan yang diperolehnya ketika masih kecil. Sebagai umat Islam kita perlu memberikan didikan yang baik dan tepat agar anak anak mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat.
Firman Allah:
"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kamu dan ahli keluarga kamu dari azab api Neraka."
Sabda Nabi SAW:
"Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah maka kedua ibu bapa merekalah yang menjadikan mereka Yahudi atau Nasrani atau Majusi."

Orang tua

Sejarah menunjukan hampir semua anak-anak yang soleh solehah dilahirkan dari keluarga yang baik juga agamanya. Contohnya adalah sebagai berikut:
  • Siti Maryam dari keluarga Imran,
  • Siti Fatimah binti Muhammad Rasulullah,
  • Siti Aisyah,
  • Nabi Isa a.s
  • Nabi Yahya
  • Rasulullah SAW
  • Imam Syafiie
  • Umar bin Abdul Aziz
  • Sultan Al Fateh (Mehmed II)
  • Syaikh Abdul Qadir Djaelani
  • dan sebagainya
Itu sebabnya jika kita ingin mendapatkan rezeki anak yang soleh dan solehah, kita perlu sungguh-sungguh memperbaiki diri kita sebagai orang tua terlebih dahulu. Proses memperbaiki diri ini dimulai sejak sebelum menikah, ketika memilih pasangan hidup, dan terus berlangsung sampai akhir hidup kita.

Guru

Guru adalah orang yang memegang peranan penting dalam proses pendidikan anak. Pilihlah guru yang baik agamanya, dan bersungguh sungguh mengusahakan taqwa baik bagi dirinya sendiri juga pada anak didiknya.