Kamis, 25 Desember 2014

Menggambar Bisa Mematikan Kreativitas


Gambar klasik pemandangan yang sering diajarkan ke anak-anak

Menggambar kreatif  yang jarang diajarkan Sumber: sweetclipart.com
Jangan menganggap bahwa semua kegiatan yang berhubungan dengan seni adalah sesuatu yang kreatif. Bagi anak usia dini, terkadang pekerjaan menggambar yang selama ini menjadi salah satu cara yang banyak dilakukan untuk mengali kreativitas, bisa mematikan kreativitas anak jika menggunakan metoda yang salah. Bagi anak anak usia dini, menggambar itu bisa mendidik bukan hanya di bidang seni saja tapi juga belajar mengungkapkan gagasan, belajar membuat simbol, belajar mengamati dan memindahkan apa yang diamatinya dalam bentuk gambar, belajar membuat model, dll. Tapi semua hal menyenangkan dan eksploratif yang didapat dari mengambar dapat hilang dan mematikan kreativitas jika menggunakan cara yang salah.

Gambar bagi anak mungkin hanya berupa garis dan coretan yang terlihat tidak ada artinya. Tapi dari coretan tidak bermakna itu kita bisa menemukan banyak sekali ide dan gagasan kreatif anak serta cara anak melihat dunia dari sisi pandangnya. Gambar anak yang murni dari gagasannya mungkin terlihat kurang bagus, dan tidak akan lolos seleksi jika mengikuti lomba gambar anak-anak, tapi ini adalah gambar yang mencerminkan cara berfikir anak.

Gambar abstrak dari anak-anak

Jika kita memberikan kebebasan pada anak utnuk bercerita tentang apa yang digambarnya, kita akan membuatnya merasa senang dan dapat belajar lebih banyak lagi tentang benda benda yang berada di sekitarnya. Cara ini juga bisa menjadi entry point bagi kita untuk mengetahui sampai mana pemahaman anak tentang segala seauatu yang pernah dilihat atau dialaminya. Jika kita memiliki waktu untuk mendampingi anak ketika mengambar, kita bisa memberikan materi baru atau stimulan baru bagi anak.

Berbeda dengan cara menggambar yang diberikan secara rinci dan bertahap. Sebagai orang dewasa, kita telah memiliki persepsi sendiri seperti apa gambar gunung, seperti apa gamba orang, dll. tapi belum tentu gambar seperti itu yang ada dalam fikiran anak anak. Jika kita memberi contoh secara rinci tentang bagaimana menggambar sebuah gunung, katak, orang, dll, kita mematikan bagian yang cukup penting bagi anak yaitu kreativitas. Contoh kasus yang umum terjadi adalah anak akan memiliki pandangan bahwa gambar gunung yang bagus adalah gambar gunung dengan matahari terbit seperti ini:


Sumber: www.thecrowdvoice.com
Gambar gunung dan matahari (dari http://m.kaskus.co.id/post/52f6e93dfcca172c3500030c)


Gambar gunung dan matahari (dari http://m.kaskus.co.id/post/52f6e93dfcca172c3500030c)




Gambar aslinya mungkin seperti ini, walaupun tanpa matahari terbit:

Foto gunung kembar Sumbing dan Sindoro, dengan jalan dan sawah, minus matahari terbit

Jadi tanpa berfikir lebih lanjut anak akan membuat gambar seperti ini dan mewarnai. Ini dapat menyebabkan proses berfikir dan kreativitas anak tidak terasah dan lama kelamaan anak anak lebih banyak mengasah keterampilan motorik halusnya saja tanpa mengasah apa yang ada di dalam fikirannya.

Matahari terbit/ di Gunung Batur (http://www.panoramio.com/photo/52606441)
Terakhir: matahari terbit akan menghasilkan foto siluet gunung, di mana latar depan akan berwarna gelap, yang kelihatan terang hanya langit dan awan saja. Jadi hampir semua gambar matahari terbit yang dibuat anak-anak itu adalah keliru secara tata cahaya.
Sumber foto:
  • Foto matahari terbit di gunung Batur http://www.panoramio.com/photo/52606441
  • http://m.kaskus.co.id/post/52f6e93dfcca172c3500030c
  •  

Senin, 22 Desember 2014

Bagi Anak, Belajar Bukan Hanya Mengerjakan Soal

sumber gambar: http://azmega.com/vector/lovely-lines-manuscript-illustration.html

Sudah sekolah belum? kelas berapa sekarang? Sudah belajar apa saja? Pertanyaan itu adalah pertanyaan klasik yang biasa ditanyakan pada anak anak. Ada juga yang mencoba memberi pertanyaan tentang berhitung, Ilmu Alam dan lain lain.. kalau anak dapat menjawabnya, biasanya mereka akan berkomentar "pinter...". Komentar ini mungkin membuat anak merasa bangga dan tentunya orangtuanya.

Belajar Agar Jadi Cerdas Adalah Impian Semua Orang Tua


Tentunya kita semua ingin agar anak kita cerdas, unggul dan serba bisa. Jangan kuatir, karena urusan kecerdasan dan kemampuan, setiap anak sudah mendapat bekal sejak lahir. Rezeki yang dimiliki tiap anak ini yang perlu di arahkan dan dilatih sebaik baiknya agar anak dapat berkembang sebaik baiknya. Nah, mungkin sebagai orang tua, terkadang ada sedikit kegalauan dalam diri kita. Pertanyaan yang sama mungkin pernah ada dalam hati kita yaitu: sudahkan anak anak kita arahkan untuk belajar mengembangkan dirinya dengan maksimal? apalagi yang harus kita lakukan agar anak mampu belajar sebaik baiknya untuk menyongsong hari depan yang penuh tantangan.

Jangan Biarkan Anak Menjadi Pasif

Kita perlu membuang jauh-jauh fikiran bahwa belajar itu adalah waktu ketika mereka duduk diam dan memperhatikan kita, lalu menulis dan mengerjakan soal. Kalau kita melakukannya, kita bisa beresiko membuat anak menjadi pasif dan hanya mau duduk diam dan mendengarkan. Padahal, anak itu terus tumbuh, dan jika kita tidak mengajarkan berbagai cara untuk belajar, ia akan kehilangan waktu dan kesempatan untuk dapat melakukannya sendiri.

Belajarlah Mengenal Dunia


Jangan pernah berfikir kalau kecerdasan hanya dapat diperoleh dengan duduk manis di kursi, memegang pensil dan kertas. Kalau anda berfikir seperti ini justru anda menutup pintu pintu kecerdasan anak yang lain untuk terus berkembang. Anak Usia Dini memiliki beribu ribu cara untuk belajar dan berkembang. Mereka belajar dengan melihat, berjalan, makan, bermain dan apa saja yang dilewatinya. Bahkan sebetulnya Anak Usia Dini itu melewatkan seluruh waktunya untuk belajar.

Banyak sekali kemampuan yang perlu di asah pada usia ini karena pada tahap ini anak bagaikan spons busa yang mampu menyerap banyak hal yang diajarkan kepadanya. Karena itu, sayang sekali jika perbendaraan anak dibatasi dengan memegang kertas dan pinsil saja. Belajar membaca menulis dan berhitung bisa dilakukan pada masa selanjutnya, jadi tidak perlu kuatir jika anak baru belajar membaca pada umur 7 tahun, atau 8 tahun. Tapi belajar untuk memahami dunia dan sekelilingnya itu harus dilakukan setiap saat dari bangun sampai tidur.

Dalam Islam, belajar berlangsung ketika hendak tidur, di dalam tidur, mulai bangun dan beraktivitas.

Seperti dalam firman Allah:

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya, kemudian Dia mengemukakannya kepada para malaikat dan berfirman, "Beritahukanlah kepada-Ku nama-nama ini jika kamu berkata benar.” Mereka berkata, “Mahasuci Engkau, kami tidak mempunyai ilmu kecuali apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, Maha­bijaksana." Dia berfirman, "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-­nama itu." Maka tatkala diberitahukannya kepada mereka nama-nama itu, Dia berfirman, "Bukankah telah Aku telah berfirman kepadamu, sesungguh­nya Aku mengetahui rahasia seluruh langit dan bumi, dan mengetahui apa yang kamu zahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (Al-Baqarah [2]:32-34).
(sumber: http://kilanglangbuanakusuma.blogspot.com/2009/09/kisah-kisah-monumental-dalam-al-quran_5075.html)


Yang Perlu Dilatih

  
Ada kemampuan berpikir dengan berbagai uraiannya, kemampuan merasakan dan melihat sesuatu, kemampuan mengungkapkan sesuatu yang dirasa dan dipikirkan, kemampuan jiwa yang kuat jika menghadapi kegagalan dan kemampuan fisik baik motorik halus dan kasar yang nantinya dapat membantu perkembangan anak. Kemampuan berpikir ini yang akan dipakai untuk belajar matematika, Pengetahuan Sosial, Pengetahuan Alam, dan lain lain. Kemampuan merasa akan digunakan untuk  berbagai pelajaran seni dan teknologi. Kemampuan jiwa mungkin tidak terlihat, tapi dibutuhkan agar anak tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah. Kemampuan fisik, walaupun terlihat sederhana, tapi cukup penting. Seorang yang fisiknya lemah akan menghadapi berbagai hambatan ketika mempelajari apapun.

Secara singkatnya ada kemampuan akal, hati, jiwa dan fisik yang perlu dilatih sejak kecil.  Ini semua tidak dapat dilatih dengan duduk, membaca dan mengerjakan soal saja. Anak perlu terlibat aktif, merasakan, membuat, dan jika gagal, memiliki kekuatan untuk membuatnya kembali.

Yang paling penting dari semua itu, Anak perlu belajar mengenal Tuhan. Melatih akal fisik, hati dan jiwa adalah satu proses yang sangat melelahkan, sehingga perlu ada sesuatu yang membuat anak dapat bangkit dan bangkit lagi. Jika anak belajar kenal Tuhan, ia akan merasa ada suatu kekuatan yang Maha Hebat yang selalu ada dekatnya, yang dapat membantunya setiap saat, yang selalu memberinya penghargaan, yang selama ini selalu memperhatikan dirinya dengan penuh kasih sayang. Kenal Tuhan membuatnya menemukan sebuah oase yang tidak pernah kering dan membuatnya menjadi lebih bersemangat berbuat segala sesuatu dalam kehidupannya.

Belajarlah Dengan Berbagai Cara


Kita bisa mengajar anak untuk menghafal, meniru, mencoba, berkreasi, berbicara, bercerita, bersabar, bertenggang rasa, berkomunikasi dll.  Silahkan sesuaikan kembali materi pelajaran yang akan diajarkan dengan tahap perkembangan anak usia dini.

Untuk ilmu kemahiran seperti dasar untuk bisa menulis, membaca dan matematika, jangan kuatir, dan jangan terpaku kalau itu hanya dapat dilakukan di atas meja dalam suasana yang sangat serius. Pelajaran ini juga dapat dilakukan dalam berbagai cara dan suasana.

Contohnya ketika belajar matematika. Belajar pola, pengelompokan, keteraturan, dan lain lain
adalah dasar ilmu yang akan dipelajari utnuk matematika. Ilmu berhitung, mencongak, dll itu hanya sebagian kecil saja dari ilmu matematika yang begitu luas.

Begitu juga  belajar pengetahuan alam. Belajar pengetahuan alam akan lebih menyenangkan jika dilakukan sambil bermain air. Berikan beberapa wadah, selang, balon, bola, dan lain lain. Biarkan anak bermain sendiri tanpa instruksi. hal ini akan membuat anak merasa mendapat  kepercayaan untuk bereksperimen dan berkenalan dengan air sendiri. Keberanian mereka untuk mencoba, dan kesabaran mereka untuk mencoba kembali ketika menemukan kegagalan adalah hal yang penting untuk dilatih.

Kamis, 18 Desember 2014

Perkembangan Anak Usia Dini: Ketika Anak Berbuat Kesalahan

Gambar dari Shutter stock
Mungkin kita pernah mengalami di rumah kasus seperti ini:  seorang anak yang berusia 3 tahun langsung menjerit dan menangis berderai air mata ketika tanpa sengaja dia memecahkan toples kaca yang berisi bumbu dapur. Terlihat sekali kalau dia kaget dan stress setelah berbuat kesalahan walaupun itu tidak disengaja. Momen seperti ini adalah momen yang cukup penting dan berharga untuk perkembangan mental anak terutama anak pada usia dini, jadi jangan sampai momen ini dibiarkan begitu saja atau ditangani dengan sikap yang salah. Jika hal ini terjadi dikuatirkan perkembangan emosi dan persepsi anak di tahap selanjutnya tidak sesuai deangn yang kita harapkan. Kita tentu bercita cita anak anak memiliki mental yang kuat, tidak takut salah, tidak gampang menyerah jika menghadapi masalah, dll. Jadi jangan sampai salah dalam bersikap karena ini akan menentukan perkembanagn anak di tahap selanjutnya.

Kalau kita membuka kembali panduan mendidik anak dalam Islam, masa 3 tahun adalah masa di mana seorang anak perlu mendapatkan banyak kasih sayang. Hal ini cukup sesuai denagn psikologi perkembangan anak karena pada tahap ini seorang anak masih belum mampu melakukan daya nalarnya secara konsisten, terlebih lagi perkembangan fisik motorik halus dan kasarnya masih terbatas. Jadi sangat diterima kalau anak anak seusia ini perlu diperlakukan dengan lemah lembut, tanpa terlalu banyak teguran, apalagi hukuman dan larangan.

Namun panduan ini membuat kita bertanya tanya, apa yang seharusnya dilakukan jika seorang anak berbuat kesalahan pada usia ini?  dan sebetulnya tidak ada jawaban yang baku untuk pertanyaan tersebut. Anak anak memiliki bermacam macam sikap ketika berbuat salah, ada yang langsung menghindar, kalau perlu menutupi kesalahannya, ada yang stress dan langsung menangis, tapi dari semua ekspresi yang kita rekam, kita perlu ingat bahwa anak anak apalagi pada usia dini masih bersih dan masih sesuai denagn fitrah, sehingga apapun sikap mereka, kita perlu meyakinkan diri bahwa setiap anak yang berbuat salah akan merasa bersalah. Namun mereka memiliki cara sendiri untuk menutupi rasa bersalah itu.

Jadi tidak ada gunanya untuk memarahi atau menghukum anak terlalu keras karena sikap ini akan membuat anak untuk takut berbuat salah dan tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah dari kesalahan tersebut.  Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana agar anak menerima kesalahannya tapi tidak pergi dari masalah dan membantunya menyelesaiakn masalah dari kesalahan yang dibuatnya. Dengan cara seperti ini semoga anak anak tidak melarikan diri dari masalah, tidak menutupi kesalahannya atau takut berbuat kesalahan.

Mungkin kita baru menikmati hasil didikan ini setelah 5 atau 10,tahun mendatang, tapi didikan kecil ini akan memberi pengaruh besar pada anak kelak ketika menemukan masalah dalam pelajaran, atau melakukan kesalahan dalam tugas atau soal pelajaran, dll. Anak yang dibantu untuk menyelesaikan masalahnya akan lebih berani dalam bertindak, tidak mundur ketika melakukan kesalahan, bahkan denan cepat akan berusaha berbuat sesuatu untuk menyelesaikan masalah akibat kesalahannya dibanding anak yang hanya menerima teguran dan hukuman.


Minggu, 07 Desember 2014

Penemuan Ketika Belajar Buku IPA Kurikulum 2013

Buku IPA kurikulum terpadu ini cukup menarik untuk dibaca. Gambar halaman mukanya cukup bagus dan membuat kita ingin sekali membuka dan membaca isinya. Dari daftar isi buku, kita dapat melihat bahwa pokok bahasan ilmu alam yang disampaikan cukup luas dan bervariasi dari ilmu fisika, kimia dan biologi ada di dalam buku ini.

Buku pelajaran IPA Terpadu SMP kelas 8 terbitan Erlangga
Sayangnya semangat anak anak di rumah berkurang ketika membaca salah satu bab di dalam buku yaitu tentang jembatan. Setelah membaca topik ini semangat mereka menjadi berkurang, bahkan tidak memiliki keinginan untuk membacanya kembali. mengapa? No 2 dan no 1 di rumah menemukan kejanggalan dalam tulisan di bawah ini:


Jembatan kantilever menurut buku pelajaran IPA

Jembatan kantilever menurut buku pelajaran IPA
Walaupun belum bisa mengungkapkan penjelasan dengan lengkap, mereka berkomentar... ini sesuatu yang aneh, ketika membaca definisi tentang jembatan kantilever. Sebagai seorang yang lebih berstatus sebagai pendamping, saya memberi saran kepada anak anak untuk mencari definisi yang lebih lengkap tentang definisi kantilever ini di internet. Lagi lagi mereka kurang tertarik untuk menemukannya.

Dalam Wiki Indonesia tidak ditemukan penjelasan yang cukup dipahami tentang jembatan kantilever. Kami malah menemukan pokok bahasan tentang jembatan kantilever yang didapat dari gambar yang sama pada buku ini. (Silahkan lihat di sini). Jadi buku ini copy paste dari website tersebut, atau website tersebut yang mengutip dari buku itu? Bingung. Berikut ini saya lampirkan screenshot dari artikel website yang mirip tersebut.
Screnshot artikel dari website http://enamzzipa3mantap.blogspot.com/2012/03/konsep-keseimbangan-pada-jembatan.html

Dan akhirnya kami menemukan penjelasan tentang jembatan kantilever di sini, dan sini dengan gambar :

Jembatan Kantilever
Sumber: http://www.bristol.ac.uk/civilengineering/bridges/Pages/HowtoreadabridgeTrusses.html
 dan :
Jembatan Kantilever

Sebelum membaca buku ini, anak anak sudah pernah belajar tentang kantilever di sini.

Referensi

5 Cara Belajar Tentang Kantilever

1. Cara pertama yang konvensional adalah deangn mencari sumber yang menarik di literatur atau internet tentang kantilever. Kantilever ini sendiri adalah benda yang menarik.Dengan adanya kantilever kita bisa membuat bermacam macam bentuk bangunan yang tidak menerus tapi memiliki overhang. Ada banyak contoh bangunan dan jembatan kantilever yang menarik dan bisa dilihat di internet.

2. Cara lain  yang cukup disukai anak anak adalah membuat model dari balok kayu atau balok lain yang berupa kardus, dll yang bisa ditumpuk tapi tidak memiliki sambungan pengikat seperti lego agar bisa merasakan sensasi rubuh.



 

3. Membuat model sederhana yang bisa dipelajari seperi ini:



4. Membuat tantangan menyusun koin seperti ini:






5. Membaca dan membuat percobaan menarik dari sini: http://datagenetics.com/blog/may32013/index.html.


Semoga dengan belajar seperti ini anak akan menemukan sense tentang kantilever sehingga bisa menemukan sesuatu ketika terjadi kejadian seperti ini.



Hal Yang Perlu Diketahui Guru Matematika


Gambar diambil dari sini
Kalau ada seseorang yang tiba tiba mengajak anda untuk menjadi guru matematika, apa yang akan anda lakukan? kalau hal itu terjadi kepada saya, terus terang saya akan bingung untuk memulai dari mana. Karena bidang matematika ini sungguh luas dan hampir setiap kegiatan kita sehari hari pun menggunakan matematika. Apalagi jika yang diajar adalah anak anak usia sekolah dasar.... tentu kita tidak ingin anak anak kehilangan waktunya untuk mempelajari hal hal yang penting karena ilmu ini akan menjadi bekal bagi mereka kelak, tapi juga tidak ingin waktunya sia sia karena mempelajari hal hal yang tidak perlu dan tidak dipakai dalam kehidupannya. Dari pada bingung  berkelanjutan, lebih baik kita mencari informasi dari orang lain yang sudah berpengalaman menjadi matematika.

Saya memilih Marilyn Burn menjadi salah satu nara sumber tentang pelajaran matematika anak anak sekolah dasar. Beliau menjadi guru sejak tahun 1962 dan telah menulis banyak buku. Buku bukunya banyak yang berisi tentang pendidikan matematika sekolah dasar. Ia juga menulis beberapa buku komik untuk anak anak yang menarik dan bisa dijadikan bahan selingan mengajar jika anak anak sedang bosan belajar matematika.Beberapa hal yang disampaikan oleh Marilyn Burns cukup menarik dan bisa menjadi masukan untuk orang yang sudah dan ingin mengajar matematika.

Wacana yang diberikan oleh Marilyn Burns antara lain adalah belajar matematika tidak sama denagn berhitung. Walaupun berhitung adalah bagian dari matematika, tapi matematika sendiri jauh lebih luas dari berhitung dan mencongak. Jangan berfikir ketika kita sudah mengajarkan perkalian tiga digit dan pembagian kita sudah mengajarkan matematika. Yang sebenarnya kita ajarkan adalah prosedur standard dalam menghitung perkalian. Hal ini menjadi sangat berbeda jika kita berbicara tentang matematika. Ruang lingkup matematika lebih luas dari berhitung dan dapat dipelajari dengan berbagai cara.

Walaupun setiap anak harus dilatih untuk berhitung dengan baik, seperti kita latihan teknis ketika bermain piano sebelum bermain sonata, atau berlatih mencampur dan gradasi warna sebelum membuat lukisan, atau membuat banyak coretan sebelum menggambar denagn teknik pensil, tapi tujuan kita belajar matematika bukan hanya untuk berhitung, tapi lebih dari itu, menyelesaikan masalah denagn alat bantu matematika.

Marilyn Burns telah  menemukan anak anak yang tidak dilatih utnuk berfikir secara matematis belum tentu dapat untuk menyelesaikan soal cerita atau soal yang berbeda dengan soal berhitung. Contohnya, untuk perhitngan sederhana  seperti penjumlahan dan pengurangan sudah diajarkan di sekolah anak anak mampu mengerjakannya tapi ketika diberi soal cerita, mereka terdiam. Ada beberapa yang meminta petunjuk dari gurunya dan bertanya" ditambah atau dikurang? ".

Tentu saja ini menunjukkan ada hal lain yang belum dikuasai sehingga mereka tidak memiliki keberanian untuk menyelesaikan soal tersebut sendiri.  Persoalan ini semakin memuncak ketika ternyata soal cerita yang diberikan oleh guru jumlahnya tipikal. Dari pengalaman pribadi ketika menemani anak mengerjakan soal matematika sekolah dasar, soal cerita yang diberikan sifatnya tipikal, sehingga jika anak sudah menemukan cara utnuk mengerjakan soal ke satu, ia akan menduplikat cara kerjanya ke soal ke 2 ke 3 dst. Ternyata hal ini juga terjadi pada beberapa anak yang diteliti oleh Marilyn Burns.

Tentu saja hal ini jauh sekali dari yang diharapkan. Kita bisa menggunakan mesin hitung dan alat lain untuk menggantikan tugas menghitung, tapi mesin hitung tidak dapat memberikan penyelesaian dari suatu masalah baik yang bersifat sederhana ataupun kompleks. Lebih jauh lagi, akibat dari kita hanya melihat matematika sebagai ilmu berhitung yang prosedural, kita tidak mampu menghubungkan kegiatan matematika denagn masalah yang nyata dalam kehidupan sehingga lambat laun ilmu matematika akan menjadi asing dan terpisah dari kehidupan nyata. Pemisahan itu seharusnya tidak terjadi karena berhitung dan memecahkan masalah adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Pendekatan mengajar dengan menggunakan prosedur matematika standard dalam berhitung seperti perkalian dua digit, dll juga memiliki banyak kekurangan, salah satunya tidak melatih dan membuat siswa memiliki kemampuan dan keberanian untuk bereksperimen dan menemukan sendiri cara menyelesaikan persoalan matematika. Cara ini bisa membuat anak anak melupakan matematika ketika pelajaran matematika sudah usai dan kurang tertark dengan matematika (math is so boring...!).

Berbeda jika anak dilatih untuk menemukan sendiri atau membuat cara sendiri menyelesaikan masalah. Dia akan lebih memahami dan mampu menyelesaikan soal yang diberikan. Hal ini ditemukan oleh Marilyn Burns ketika dia memberikan soal cerita tentang pembagian dan meminta anak anak menyelesaikannya sendiri denagn cara apapun. Marilyn Burns menerima semua cara yang dipakai oleh anak anak dan membicarakannya bersama  mereka. dari pembicaraan ini ia bisa melihat
bagaimana cara anak berfikir dan menyelesaikan soal.

Soal yang bersifat problem solving adalah wacana yang menarik untuk mengajar matematika. Sayangnya tidak semua mampu untuk membuat soal seperti ini dalam jumlah yang banyak. Dengan soal problem solving, bukan juga berarti kita menghilangkan unsur latihan berhitung di dalamnya tapi kita menggabungkan soal problem solving dan berhitung menjadi satu kesatuan. Ada beberapa cara yang diberikan oleh Marilyn Burns utnuk membuat soal matematika seperti:

1. Menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari hari seperti ketika membeli barang, membagikan makanan, mengatur waktu kegiatan, memasak, membuat prakarya, merajut, dll. Ada banyak sekali kegiatan sehari hari  yang bisa dilakukan untuk menjadi soal matematika.

2. Membuat soal matematika dari buku cerita. Ada beberapa buku cerita yang bisa dipakai untuk berlatih matematika. Buku seperti puzzle dapat langsung dipakai untuk berlatih, contohnya buku seperti ini:

Kita juga bisa membuat soal tambahan dari buku yang sudah ada untuk berlatih atau kalau ada waktu luang membuat buku cerita sendiri.  Dari buku seperti ini anak anak belajar untuk menerapkan ilmu berhitungnya menjadi alat utnuk memecahkan masalah. 

3. Membuat model matematika denagn alat yang sederhana seperti kertas, sedotan, balok kayu, dll. Benda seperti ini membuat anak anak bisa melihat dengan kongkrit soal matematika yang biasanya diwakili denagn angka, lebih mudah memahami soal yang diberikan, melatih untuk menyelesaikan soal cerita ke dalam model yang lebih sederhana,melatih numbersense, belajar mencoba menyelesaikan soal matematika dengan caranya sendiri, dll.

4. Mengajak anak untuk membuat soal matematika sendiri dari pelajaran yang sudah dipahami. Ini akan menunjukkan seberapa jauh pemahaman anak anak terhadap pelajaran yang diberikan.

Selain cara di atas, ada banyak lagi kegiatan yang dapat dibuat untuk melatih matematika. Kita bisa menghubungkan seni, arsitektur, musik, tari tarian, dll dengan matematika. Ada banyak permainan dan puzzle yang membuat anak berfikir  secara matematis seperti permainan catur, congklak, sudoku, kakuro dll yangbisa dimanfaatkan utnuk berlatih matematika.