Selasa, 11 November 2014

Anak Itu Ibarat Kertas Putih, Orang Tua dan Pendidik Yang Mewarnainya

Salah satu hadits Nabi yang berkesan bagi saya adalah:

Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, dan Nashrani, sebagaimana dilahirkannya binatang ternak dengan sempurna, apakah ada telinga yang terputus?. (dari Abu Hurairoh).

Dari hadits ini tersirat bahwa tanggung jawab pendidikan anak anak itu berada di tangan kedua orang tuanya serta pendidiknya. Hasil dari pendidikan ini akan mulai terlihat ketika anak sudah mulai akil baligh. Usia akil balih adalah usia di mana setiap manusia telah dewasa dan dianggap mampu menunaikan kehidupannya secara mandiri lengkap denagn segala konsekuensinya. Jika setiap anak mendapatkan pendidikan yang baik dan benar, masyarakatlah yang akan mendapat banyak manfaat darinya, sementara jika proses pendidikan tidak dilakukan denagn benar, masyarakat juga yang harus menanggungnya. itu sebabnya dalam skala besar, pendidikan ini juga merupakan tanggung jawab masyarakat bersama.

Dari hadits tersebut sebetulnya banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang ada di dalam benak saya, dan alhamdulillah mulai banyak juga pengalaman dan ajaran yang saya dapatkan denagn proses belajar dan mengajar di rumah. Ternyata faktor didikan dan bentukan orang tua memiliki pengaruh yang besar bukan hanya dalam bidang agama saja, tapi juga dalam cara hidup dan juga pendidikan yang lain. Beberapa hal yang saya temukan di rumah adalah:


  • Minat dan bakat anak. 

Jika kita bicara minat dan bakat anak ada beberapa pendapat. Ada yang berfikir bahwa setiap anak sudah diberikan rezeki yang berbeda beda, ada yang memiliki kelebihan di bidang verbal, visual dan gerak. tapi ternyata tidak semudah itu menentukan minat dan bakat anak. Memang ada beberaoa yang sanagt berbakat sehingga kita tidak bisa menebak nebak lagi ke mana kira kira arah anak anak tersebut, tapi ada juga yang belum terlihat apa apa. Seperti apa pun anak anak kita, sebenarnya sebelum akil baligh, kita perlu mengenalkan semua bidang yang dapat dipelajarinya sehingga wawasannya menjadi lebih terbuka. Proses ini perlu dilakukan terus menerus sebelum anak betul betul yakin bidang apa yang disukainya. Hasil dari penemuan ini bisa terjadi dalam waktu 1 tahun, 2 tahun 5, tahun atau bertahun tahun setelah itu, tapi denagn membuka wawasannya, dunia anak akan terbuka lebar utnuk mendalami apa saja yang dibutuhkannya kelak. Lebih baik memiliki 10 keahlian daripada hanya memiliki 1 keahlian saja bukan?

  • Lingkungan dan Suasana Belajar 
Usahakan agar lingkungan anak selalu nyaman dan konsisten sehingga anak selalu bersemangat untuk belajar apa saja. Pendidik dan orang tua sangat menjadi panutan dalam hal ini. Contohnya jika kita ingin agar anak anak mau belajar menghafal al Quran, kita perlu menyediakan waktu yang memadai dan suasana yang santai. Keterlibatan kita untuk ikut menghafal dan menjaga agar semangat menghafal tetap berkobar kobar sangat penting, kalau perlu sebisa mungkin kita bisa memberikan rasa bahwa menghafal al quran itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Hal ini harus kita berikan secara istiqomah bertahun tahun, sampai akhirnya sang anak muali menikmati pekerjaannya dan dapat melakukannya sendiri.

  • Pelajaran Akademik Yang Cukup Sulit

Matematika fisika kimia dan embel embel pelajaran lain yang sulit sering dihindari dan kurang disukai, apalagi jika anak tidak dapat menyelesaikan soal soal yang dikerjakannya sendiri. Kita perlu mencari nara sumber dari penulis yang betul betul telah menikmati bidang fisika matematika dan kimia dan berharap dari buku dan kegiatan yang diikuti oleh anak anak dapat menimbulkan minat dan membuat anak lebih bersemangat dalam belajar. Ini pun berlu waktu lebih daru 1 tahun untuk membentuk anak agar mulai suka denagn pelajaran pelajaran tersebut. Tapi ini adalah hal yang cukup penting mengingat banyak sekali peristiwa sehari hari yang tidak dapat diselesaikan jika kita tidak menguasa ilmu ilmu dasar tersebut.

  • Pentingnya Ilmu Agama
Kita sangat beruntung karena agama Islam memiliki ilmu yang sangat rinci dan lengkap tentang segala hal yang berhubungan denagn kehidupan sehingga kedua pelajaran antara agama dan kehidupan sehari hari sangat terkait dan dapat saling bantu membantu. Contohnya dalam hal tawakal dan kesabaran. Denagn modal ini diharapkan anak anak mampu menyelesaikan masalah dan tidak malu untuk bertanya jika bingung atau melakukan kesalahan dalam tugas dan pekerjaannya. Ilmu ilmu fardhu ain yang berhubunagn denagn akidah syariat dan tasawuf adalah pakel pelajaran agama yang wajib dilakukan pada anak anak agar ketika akil baligh mereka telah mendapatkan modal dan kekuatan utnuk bertahan dalam kehidupan.

3 komentar:

  1. saya setuju atas tulisan anda, karena saya punya pengalaman yg sama

    BalasHapus
  2. Memiliki keyakinan atas kekuasaan Allah, bahwa bumi, langit dan segala isinya adalah ciptaan dan Allah juga yg memeliharanya adalah hal dasar yg harus ditanamkan kepada anak sebelum anak mengenal ilmu yg lain..

    BalasHapus